Indef Kritik Jokowi yang Kutip Istilah Game of Thrones

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi berbincang dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Keuangan Sri Mulyani saat penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dan Daftar Alokasi Transfer ke Daerah dan Dana Desa Tahun 2019 di Istana Negara, Jakarta, Selasa 11 Desember 2018. TEMPO/Subekti.

    Presiden Jokowi berbincang dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Keuangan Sri Mulyani saat penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dan Daftar Alokasi Transfer ke Daerah dan Dana Desa Tahun 2019 di Istana Negara, Jakarta, Selasa 11 Desember 2018. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengkritik pernyataan Presiden Joko Widodo atau Jokowi pada ajang pertemuan tahunan International Monetary Fund (IMF) - World Bank di Bali, pada Oktober 2018 lalu. Saat itu, Jokowi dalam pidatonya menyebut perekonomian dunia bak film Game of Thrones. 

    Pidato Jokowi tersebut langsung ramai karena Jokowi juga menyebut istilah khas dalam film tersebut, yaitu Winter is Coming. Selain itu, Jokowi juga menyebut bahwa Indonesia bergantung pada negara lain.

    “Kami bergantung pada saudara-saudara semua, para pembuat kebijakan moneter dan fiskal dunia untuk menjaga komitmen kerja sama global,” kata Jokowi saat itu. Pernyataan inilah yang dikritik Indef.

    “Tak musim dingin di Indonesia, kita harus optimistis,” kata Esther dalam sambutannya di acara Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun Indef 2019 di Jakarta, Selasa, 16 Juli 2019.

    Barangkali Indonesia negara kecil, kata Esther, tapi harusnya bisa berperan besar dalam konstelasi ekonomi dunia. Untuk itu, Ia menyarankan agar Jokowi belajar pada film The Lord of The Rings.

    Dalam film tersebut, kta Esther, tokoh kunci yang berperan besar justru adalah seorang hobbit bernama Frodo Baggins, bukan tokoh lain yang jauh lebih kuat. “Jadi kita jangan bergantung pada negara lain, kita bisa menyelamatkan diri kita sendiri,” kata dia. Film ini, ujarnya, bisa merefleksikan bahwa negara seperti Indonesia bisa ikut berperan menyelamatkan ekonomi dunia.

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang hadir dalam acara ini langsung menjawab kritik dari Esther. “Tidak tepat kalau pakai metafora begitu, karena The Lord of The Rings juga banyak saljunya, gak relevan,” kata dia.

    Menurut Sri Mulyani, semangat nasionalisme bahwa Indonesia jangan merasa bergantung pada negara lain sebenarnya sudah benar. Hanya saja, semangat itu kurang tepat dalam praktik kebijakan global. Sebab, kata dia, semua negara saat ini saling tergantung satu sama lain.

    Bahkan, negara sebesar Cina pun sangat bergantung pada negara lain. “Vietnam yang tinggi pertumbuhannya, juga bergantung pada dunia,” kata Sri Mulyani.

    Lebih lanjut, Sri Mulyani menyebut Indonesia sebenarnya tidak terlalu masuk dalam arus supply-chain perdagangan dunia. Akibatnya, Indonesia tidak terlalu terkena dampak perang dagang yang saat ini terjadi di dunia, ketimbang negara lain.

    Tapi di sisi lain, Indonesia memang cukup sulit untuk meraup untung dari perang dagang ini karena tidak terlalu masuk dalam supply-chain tersebut. “Jadi less-exposed, tapi juga less-able untuk masuk,” kata Sri Mulyani menanggapi soal kutipan yang diucapkan Presiden Jokowi sebelumnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.