Menteri Enggar Ajak Pengusaha Indonesia Investasi di Turki

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito melewati lorong mural saat melakukan inspeksi ke Pasar Cihapit, Bandung, Jawa Barat, pasca lebaran, 28 Juni 2017. TEMPO/Prima Mulia

    Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito melewati lorong mural saat melakukan inspeksi ke Pasar Cihapit, Bandung, Jawa Barat, pasca lebaran, 28 Juni 2017. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta -Menteri Perdagangan Indonesia Enggartiasto Lukita mengajak pengusaha Indonesia untuk melihat celah bisnis dan berinvestasi di Turki. Hal tersebut didasarkannya pada keberhasilan Indofood dalam memproduksi Indomie di Turki, sehingga produk tersebut mampu menguasai 90% pangsa pasar mie instan di Turki.

    BACA: Undang Asosiasi Pengusaha di Bogor, Jokowi Bahas 3 Hal Ini

    Potensi pasar di negara tersebut, menurut Enggar akan semakin besar apabila pakta kerja sama Indonesia-Turki Comprehensive Economic Partnership Agreement dapat segera dilaksanakan. 

    "Kalau kita sudah tahu besarnya pasar di Turki, maka Pemerintah akan mengajak pelaku usaha Indonesia untuk berinvestasi menanamkan modal dan mendirikan pabrik di Turki, seperti Indofood. Keuntungannya, bahan baku tetap diekspor dari Indonesia,” ujarnya, seperti dikutip dari keterangan resminya, Senin,15 Juli 2019.

    BACA: Jadi Pengusaha Kuliner, Ini Tantangan Besar Gibran Rakabuming

    Dia menambahkan, bahan baku Indomie sedikitnya 45% disuplai dari Indonesia dengan nilai sekitar US$ 20 juta per tahun. Bahan baku yang berasal dari Indonesia adalah bumbu, pembungkus, dan minyak kelapa sawit. Angka tersebut, lanjutnya,  diharapkan meningkat menjadi dua kali lipat jika IT-CEPA dilaksanakan.

    Chief Financial Officer atau CFO Adkoturk Yusuf Hermawan Achmad mengatakan, kapasitas produksi Indomie di Turki saat ini sebanyak 550.000 karton per bulan dengan penjualan mencapai 450.000 karton Indomie bungkus dan 50.000 karton Indomie kemasan cup per bulan. Kapasitas produksi akan meningkat menjadi 1 juta karton per bulan dengan adanya penambahan mesin baru.

    Kebutuhan minyak kelapa sawit untuk Indomie saat ini sebanyak 250-500 ton per bulan. Dengan rencana penambahan mesin, kebutuhan minyak kelapa sawit akan mencapai 1.000 ton per bulan, sehingga permintaan minyak kelapa sawit akan meningkat. 

    Namun, tarif minyak kelapa sawit dari Indonesia lebih tinggi dari Malaysia yang telah memiliki perjanjian perdagangan bebas atau FTA dengan Turki, sehingga minyak kelapa sawit Indonesia tidak dapat bersaing di Turki.

    Sebagai upaya meningkatkan perdagangan dan daya saing produk Indonesia, sehari sebelumnya Mendag Enggar telah bertemu dengan Menteri Perdagangan Turki Ruhsan Pekca. Keduanya sepakat akan menyelesaikan perundingan IT-CEPA pada tahun ini.

    Baca berita tentang Pengusaha lainnya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.