Hingga Juni, PT Garam Baru Serap 4.000 Ton Garam Rakyat

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani Garam di Desa Eretan Kulon, Kecamatan Kandang Haur, Pantura, Jawa Barat, Senin (22/8). Harga garam dipasaran mengalami penurunan dari Rp 700 per kilogram menjadi Rp 500 per kilogram. Penurunan harga dikarenakan impor garam dari India dan Australia. TEMPO/Subekti

    Petani Garam di Desa Eretan Kulon, Kecamatan Kandang Haur, Pantura, Jawa Barat, Senin (22/8). Harga garam dipasaran mengalami penurunan dari Rp 700 per kilogram menjadi Rp 500 per kilogram. Penurunan harga dikarenakan impor garam dari India dan Australia. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Garam (Persero) hingga kini baru menyerap sekitar 4.000 ton garam petambak dari target penyerapan sebanyak 75.000 ton pada tahun 2019. Angka ini lebih rendah ketimbang tahun lalu, kala perseroan menyerap 120.000 ton dari total produksi garam rakyat sekitar 2,3 juta ton.

    Baca: Harga Garam Anjlok, Susi Pudjiastuti: Karena Terlalu Banyak Impor

    "Baru 4.000 ton pada 2019," ujar Direktur Operasi PT Garam Hartono di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Jumat, 12 Juli 2019.

    Menurut Hartono, penyerapan yang belum mencapai target itu penyebabnya adalah masih banyaknya garam yang belum diolah perseroan, termasuk hasil penyerapan tahun sebelumnya. Ia memprediksi puncak produksi terjadi pada September mendatang.

    Adapun mengenai harga, ia mengatakan rata-ratanya adalah Rp 1.050.000 per ton. Harga itu lebih rendah ketimbang tahun lalu yang rata-rata Rp 1,3 juta per ton. Kata Hartono, pada tahun lalu perseroan memang berusaha mengangkat harga garam ketika anjlok. Namun, ia berujar kekuatan perseroan pun terbatas. Sehingga, ketika pemain lain tidak mengikuti harga tersebut, maka mekanisme pasar pun berlaku. Meski demikian, ia menjaga agar harga itu tidak terlalu anjlok, khususnya garam kualitas K1.

    Hartono menyebut perseroan memang hanya menyerap garam berkualitas K1.  Garam itu memiliki kandungan NaCl di kisaran 95-98 persen. "Supaya ada pembelajaran di petani agar tidak produksi asal-asalan," ujar dia.

    Fenomena jebloknya harga garam terjadi di Cirebon dan Indramayu. Sebanyak 8.600 ton garam hingga kini masih tersimpan di sejumlah gudang di Kabupaten Indramayu.  Padahal tahun sebelumnya, tidak ada petambak yang memiliki stok garam di gudang seperti saat ini.

    Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Indramayu, Edi Umaedi, menjelaskan ribuan ton garam itu belum terjual di Kabupaten Indramayu. “Garam tersebut tersimpan di sejumlah gudang milik petambak garam,” katanya, kemarin.

    Baca: Menteri Luhut Janji Usut Penyebab Anjloknya Harga Garam Petani

    Adapun Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa, Kemenko Bidang Kemaritiman Agung Kuswandono berujar anjloknya harga terjadi pada garam berkualitas K2 dan kelas K3. "Yang masalah bukan di K1, jadi harga turun itu karena kualitas K2 dan K3," ujar dia. Adapun garam kualitas K2, yaitu yang kandungan NaClnya 90-95 persen dan kualitas 3, yang kandungannya di bawah 90 persen.

    CAESAR AKBAR | RMN IVANSYAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Instagram Uji Coba Menghilangan Fitur Likes agar Fokus ke Konten

    Instagram tengah lakukan uji coba penghapusan fitur likes di beberapa negara pada Juli 2019. Reaksi pengguna terbelah, sebagian merasa dirugikan.