Impor BBM Dinilai Sulit Tertekan Jika Kilang Tak Ditingkatkan

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menyiapkan BBM Solar B20 saat diluncurkan di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian di Jakarta, Jumat, 31 Agustus 2018. Penerapan Mandatori B20 dilakukan dalam rangka mengurangi defisit dan impor bahan bakar minyak, juga menghemat devisa. TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas menyiapkan BBM Solar B20 saat diluncurkan di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian di Jakarta, Jumat, 31 Agustus 2018. Penerapan Mandatori B20 dilakukan dalam rangka mengurangi defisit dan impor bahan bakar minyak, juga menghemat devisa. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro memperkirakan impor produk bahan bakar minyak (BBM) terus meningkat hingga kapasitas kilang nasional ditingkatkan. Menurut Komaidi, mustahil impor BBM terpangkas kalau kapasitas kilang milik PT Pertamina (Persero) belum ditingkatkan.

    Baca juga: Jokowi Kritik Impor Migas Melambung, Begini Respons Jonan

    Komaidi mengatakan pertumbuhan impor BBM paling tidak terjadi hingga 2024, sampai rencana pengembangan dan pembangunan kilang Pertamina terealisasi. “Kapasitas kilang kita terbatas, di sisi lain kebutuhan produk yang naik. Sebenarnya, pertumbuhan permintaan kombinasi banyak faktor, yang utama adalah pertumbuhan ekonomi. Elastisitas pertumbuhan BBM setidaknya 1 persen - 2 persen per tahun,” katanya, saat dihubungi Bisnis.com, Kamis, 11 Juli 2019.

    Merujuk profil impor Pertamina, penurunan impor crude tidak dapat terus terjadi. Pasalnya, penyerapan crude oil dari KKKS yang diolah langsung di kilang nasional memiliki keterbatasan. Melihat persoalan defisit neraca migas, Komaidi pesimistis ada solusi instan dalam jangka pendek.

    Dia mengatakan kebijakan energi sulit diterapkan dalam jangka pendek, meski upaya jangka pendek sudah coba, seperti penerapan perluasan B20.

    “Tapi juga kalau nanti harga sawitnya naik juga tidak efektif. Simulasi kami, kalau harga sawit itu maksimal 3 kali harga lipat harga Brent masih layak. Akan tetapi, kalau 4 kali di atas Brent lebih baik sawit itu diekspor mentah,” katanya.

    Dia menambahkan sebenarnya sulit melarang Pertamina untuk menekan aktivitas impor. Apalagi dalam aktivitas impor, perseroan mendapatkan keuntungan. “Kalau mereka diminta menurunkan impornya agak susah, dalam arti menurunkan impor itu bukan usaha Pertamina, tapi  urusan negara,” ujarnya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Instagram Uji Coba Menghilangan Fitur Likes agar Fokus ke Konten

    Instagram tengah lakukan uji coba penghapusan fitur likes di beberapa negara pada Juli 2019. Reaksi pengguna terbelah, sebagian merasa dirugikan.