Luhut Pandjaitan Tanggapi Soal Defisit Migas yang Dikritik Jokowi

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan rangkuman hasil pertemuan G20 di kantornya, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa, 2 Juli 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan rangkuman hasil pertemuan G20 di kantornya, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa, 2 Juli 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan menjelaskan berbagai upaya pemerintah untuk menekan defisit minyak dan gas Indonesia. Defisit migas sempat disinggung oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi dalam rapat paripurna kabinet, Senin lalu.

    Baca juga: Jokowi Kritik Impor Migas Melambung, Begini Respons Jonan

    "Sekarang kan kita banyak energi terbarukan, itu akan kita olah karena sekarang ini migas kita cenderung menurun, jadi masih harus impor," ujar Luhut di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Rabu, 10 Juli 2019.

    Saat ini, kata Luhut, Indonesia memang mulai mengolah banyak energi terbarukan. Pasalnya, berdasarkan rencana, pada 2025, sebanyak 23 persen dari bauran energi Indonesia harus menggunakan energi baru terbarukan.

    Saat ini, pemerintah pun telah menguji coba biodiesel B30 dan harapannya bisa mulai diterapkan awal tahun depan. "Itu bisa menghemat US$ 3 miliar, itu akan bagus buat defisit neraca transaksi berjalan kita," tutur Luhut.

    Sebelumnya, Presiden Jokowi mengingatkan dua menterinya, Ignasius Jonan dan Rini Soemarno terkait tingginya nilai impor migas selama paruh pertama tahun 2019 dalam rapat kabinet paripurna.

    Jokowi menyoroti defisit neraca perdagangan mencapai US$ 2,14 miliar dalam 5 bulan pertama 2019. Defisit terutama dipicu oleh penurunan ekspor hingga 8,6 persen dalam periode Januari - Mei 2019 dan penurunan impor 9,2 persen.

    Dalam rapat itu, Jokowi meminta para menteri untuk mencermati angka-angka tersebut dan mempertanyakan kenapa nilai impor begitu tinggi. "Kalau didetailkan lagi (impor) migas juga naiknya gede sekali. Hati-hati di migas, Pak Menteri ESDM yang berkaitan dengan ini, Bu Menteri BUMN yang berkaitan dengan ini. Karena paling banyak ada di situ (impor migas)," kata Jokowi, Senin, 8 Juli 2019.

    Berdasarkan data BPS, jumlah impor migas Indonesia mencapai US$ 9,08 miliar dalam periode Januari-Mei 2019 atau defisit US$ 3,74 miliar dibandingkan dengan ekspor migas US$ 5,34 miliar pada periode yang sama 2019.

    Dalam periode itu, impor migas Indonesia sebenarnya lebih rendah dibandingkan dengan impor migas US$ 11,922 miliar pada Januari-Mei 2018. Defisit migas Indonesia mencapai US$ 5,12 miliar pada lima bulan pertama 2018.

    Baca berita soal Luhut Pandjaitan lainnya di Tempo.co

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mengering di Sana-sini

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengeluarkan peringatan dini bahaya kekeringan untuk wilayah Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta.