Yogya Desak Sistem Informasi Pasar Terakses Cepat Bagi Petani

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi petani. REUTERS/Beawiharta

    Ilustrasi petani. REUTERS/Beawiharta

    TEMPO.CO, Yogyakarta- Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menilai masalah utama pengembangan agribisnis bagi petani masih berkutat pada lemahnya sistem informasi pasar dan terbatasnya kemampuan petani untuk meningkatkan kegiatan usahanya.

    Sultan menuturkan sistem informasi pasar menjadi hal penting bagi pelaku pasar dalam mengambil keputusan transaksi jual beli komoditi pertanian.

    BACA: Aplikasi Karya Dosen ITB Bantu Petani Memprediksi Musim

    "Penyampaian informasi pasar yang cepat, tepat dan akurat akan membantu petani dan pelaku agribisnis dalam memperkirakan peluang usaha, sehingga mereka mampu mengantisipasi setiap perkembangan dan peluang pasar secara dini," ujar Sultan dalam pembukaan Pekan Daerah Kelompok Tani Nelayan Andalan dan Masyarakat Petani se-DIY yang dibacakan Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X di Desa Purwobinangun, Pakem, Kabupaten Sleman Selasa 9 Juli 2019.

    Sultan menilai dengan membangun sistem informasi pasar komoditi pertanian maka petani dan nelayan tidak hanya mampu menyiasati dan mengikuti perkembangan pasar komoditi pertanian dunia, melainkan juga untuk menyebarluaskan potensi pengembangan. Serta mempromosikan agribisnis lewat sub terminal dan terrminal agribisnis, sekaligus untuk menarik investor khususnya dalam pengembangan agribisnis daerah.

    Sultan menuturkan memang bukan hanya sistem informasi pasar yang membuat usaha pertanian lebih maju dan siap menghadapi dinamika pasar.

    "Keberadaan sistem informasi pasar itu juga memerlukan sejumlah dukungan lanjutan,seperti pembentukan dewan pengembangan agribisnis, jaringan pasar, standarisasi produk serta pengembangan clearing house, trading house dan future trading," ujarnya.

    BACA: Dapat Grasi dari Jokowi, 2 Petani Kendal Dibebaskan

    Bupati Sleman Sri Purnomo menuturkan era kemajuan teknologi mendesak pula kelompok petani mengembangkan olah taninya dan tak melupakan menguatkan jejaringnya di pasar global. Menurut Sri kuat dan luasnya jejaring membuat kinerja sektor pertanian dan perikanan di Sleman masih terjaga stabil.

    Untuk sektor pertanian misalnya, produksi beras dari data statistik tahun 2018 sebanyak 249,863 ton dan konsumsi masyarakat Sleman sebanyak 172.492 ton sehingga ada surplus 78.875 ton. Meskipun produksi beras itu menurun lantaran pada 2017 ada gelontoran program bantuan benih jagung dan kedelai secara gratis dari pemerintah pasca rusaknya tanaman padi karena diserang hama dan tikus. Selain itu turunnya produktivitas padi juga akibat menyempitnya luasan lahan sawah karena alih fungsinya lahan dari sawah menjadi hunian.

    Baca berita tentang Petani lainnya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.