Disentil Jokowi, Jonan Salahkan Industri Manufaktur Minim Ekspor

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri ESDM Ignasius Jonan. ANTARA

    Menteri ESDM Ignasius Jonan. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Kritik Presiden Joko Widodo atau Jokowi soal lonjakan impor migas dijawab oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan. Selain impor minyak cenderung dipicu konsumsi BBM seiring dengan pembangunan ruas jalan baru di seluruh Indonesia, Jonan menyebutkan produksi minyak tidak bisa serta merta meningkat mengingat upaya eksplorasi besar baru-baru ini mulai digenjot setelah sekian lama sempat terhenti.

    Baca: Jokowi Kritik Impor Migas Melambung, Begini Respons Jonan

    Selain itu, menurut Jonan, gas alam yang diproduksi saat ini setara dengan 1,2 juta barel minyak per hari dan sudah dikonsumsi untuk industri dalam negeri sekitar 65 persen. Ia yakin apabila mayoritas gas alam diekspor seperti sebelum tahun 2000 maka neraca migas tidak akan defisit.

    Jonan juga menyebutkan seharusnya ekspor hasil manufaktur yang mengkonsumsi gas alam serta listrik yang berperan lebih besar dan bukan ekspor migas yang digenjot. "Karena kalau gas alam seluruhnya diekspor maka industri dan listrik di dalam negeri mau pakai energi apa lagi saat ini?” kata Jonan seperti dikutip dari siaran pers, Selasa, 9 Juli 2019.

    Terakhir, Jonan meminta untuk memeriksa apakah neraca migas dari negara net importer seperti Jepang dan China juga mengalami defisit. “Tentu defisit, tapi apakah neraca perdagangan secara keseluruhan defisit? Tentu tidak kan,” kata Jonan.

    Sebelumnya, dalam rapat kabinet paripurna yang berlangsung pada Senin kemarin di Istana Bogor, Jokowi menyoroti defisit neraca perdagangan mencapai US$ 2,14 miliar dalam 5 bulan pertama 2019. Defisit terutama dipicu oleh penurunan ekspor hingga 8,6 persen dalam periode Januari - Mei 2019 dan penurunan impor 9,2 persen.

    Berdasarkan data BPS, jumlah impor migas Indonesia mencapai US$ 9,08 miliar dalam periode Januari-Mei 2019 atau defisit US$ 3,74 miliar dibandingkan dengan ekspor migas US$ 5,34 miliar pada periode yang sama 2019.

    Dalam periode itu, impor migas Indonesia sebenarnya lebih rendah dibandingkan dengan impor migas US$ 11,922 miliar pada Januari-Mei 2018. Defisit migas Indonesia mencapai US$ 5,12 miliar pada lima bulan pertama 2018.

    Baca: Jokowi Desak Menteri Percepat Izin Usaha Berorientasi Ekspor

    Dalam rapat itu, Jokowi meminta para menteri untuk mencermati angka-angka tersebut dan mempertanyakan kenapa nilai impor begitu tinggi. "Kalau didetailkan lagi (impor) migas juga naiknya gede sekali. Hati-hati di migas, Pak Menteri ESDM yang berkaitan dengan ini, Bu Menteri BUMN yang berkaitan dengan ini. Karena paling banyak ada di situ (impor migas)," kata Jokowi, Senin, 8 Juli 2019.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.