BI: Rekening Khusus DHE Bisa Permudah Eksportir Dapat Insentif

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo ditemui usai salat Jumat di Masjid Kompleks Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat 22 Maret 2019. Tempo/Dias Prasongko

    Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo ditemui usai salat Jumat di Masjid Kompleks Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat 22 Maret 2019. Tempo/Dias Prasongko

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia atau BI Perry Warjiyo optimistis kebijakan soal devisa hasil ekspor yang telah dikeluarkan lembaganya dan Kementerian Keuangan bisa membuat para eksportir lebih patuh untuk menyimpan devisa hasil ekspornya di dalam negeri dan menukarkannya ke rupiah.

    Baca juga: BI: Putusan MK Soal Pilpres Menang Jokowi Jadi Sentimen Positif

    Terlebih, kini telah ada mekanisme rekening khusus menyimpan DHE, yang mempermudah mekanisme pemberian insentif. "Kalau dulu kan insentif fiskalnya harus menyampaikan pembuktian ke kantor pajak, kalau sekarang sudah diciptakan rekening khusus sehingga yang masuk ke situ adalah DHE ekspor dan bank akan mengenakan pajak sesuai yang sudah diberi insentif," ujar Perry di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin, 8 Juli 2019.

    Dengan demikian skema itu dinilai lebih jelas, mudah, dan menggairahkan bagi eksportir. Sehingga harapannya mereka juga bisa mendorong ekspor dan berpartisipasi aktif dalam pasar valuta asing. Berdasarkan data tahun sebelumnya, Bank Indonesia mencatat 90 persen DHE sudah masuk ke perbankan lokal. Namun, dari jumlah tersebut yang sudah dikonversikan ke rupiah baru sekitar 15 persen.

    Peraturan Bank Indonesia Nomor 21/3/PBI/2019 tentang Penerimaan Devisa Hasil Ekspor dari Kegiatan Pengusahaan, Pengelolaan, dan/atau Pengolahan Sumber Daya Alam dikeluarkan sejak awal 2019. Aturan itu digodok sejak tahun lalu agar devisa hasil ekspor dari sumber daya alam atau sektor lainnya bisa masuk ke perbankan Indonesia secara mudah, cepat, jelas, dan dapat memperoleh insentif fiskal.

    "Apalagi Bu Menkeu kan sudah mengeluarkan PMK yang memberi insentif fiskal bagi para eksportir, yang tidak hanya memasukkan DHE ke perbankan kita tapi juga menukarkan ke dalam bentuk rupiah," kata Perry. "Untuk memfasilitasi itu, makanya BI sudah keluarkan PBI yang mekanismenya melalui rekening simpanan khusus."

    Rekening khusus tersebut bisa dimanfaatkan para eksportir untuk menyimpan devisa hasil ekspornya, baik dalam bentuk giro, tabungan, maupun deposito. Perry berujar telah berkomunikasi dengan perbankan agar mereka siap mendukung masuknya DHE sehingga duit dari ekspor itu bisa diidentifikasi secara khusus.

    "Para eksportir bisa mendapatkan insentif fiskal itu karena waktu mereka memasukkan sudah memberikan bukti bahwa ini benar devisanya dari DHE ekspor sesuai komoditas yang ada dan kemudian dimasukkan ke dalam rekening simpanan khusus," kata Perry.

    Adapun besaran insentif pajak yang diberikan adalah simpanan 1 bulan terkena pajak 10 persen, 3 bulan 7,5 persen, 6 bulan 2,5 persen dan lebih dari 6 bulan terkena nol persen. Sementara itu, untuk devisa yang dikonversi ke rupiah terkena pajak 7,5 persen untuk yang disimpan 1 bulan, 5 persen untuk masa simpanan 3 bulan, dan nol persen untuk masa simpanan 6 bulan atau lebih.

    Namun, eksportir tidak taat terhadap aturan di atas, pemerintah dapat memberikan sanksi dengan tiga tingkatan, yakni, tidak dapat melakukan ekspor, denda dan pencabutan izin usaha.

    Baca berita soal BI lainnya di Tempo.co

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.