Gerindra Minta Rupiah Kuat Seperti Era Habibie 6.500 per Dolar AS

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Uang Rupiah. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

    Ilustrasi Uang Rupiah. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

    TEMPO.CO, JakartaFraksi Partai Gerindra memberikan catatan terhadap besar rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada asumsi makro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2020. Berdasarkan laporan yang dibacakan anggota Badan Anggaran DPR dari Fraksi Golkar John Kenedy Aziz, Gerindra meminta pemerintah optimistis untuk membawa nilai rupiah lebih kuat dari saat ini.

    Baca:  Awal Pekan, Rupiah Dibuka Melemah di Level 14.116 per Dolar AS

    "Fraksi Gerindra meminta pemerintah untuk optimistis menguatkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat seperti masa kepemimpinan Presiden Habibie, di mana kurs dapat berubah dari Rp 16.800 menjadi Rp 6.500 per 1 dolar AS," kata John dalam rapat kerja bersama pemerintah, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin, 8 Juli 2019.

    Kendati demikian, Panja menyepakati asumsi nilai tukar dalam RAPBN 2020 ada di kisaran Rp 14.000-14.500 per dolar AS. Faktor yang mempengaruhi nilai tukar itu antara lain adalah risiko berlanjutnya perang dagang antara AS dan Cina yang berimbas kepada volume perdagangan dan pertumbuhan ekonomi dunia.

    Apalagi, pertumbuhan ekonomi global belakangan memang relatif lemah. Selain itu, asumsi tersebut juga diambil lantaran Indonesia masih menanggung defisit neraca transaksi berjalan.

    Meski demikian, masih ada faktor yang bisa memperkuat nilai tukar rupiah, antara lain berlanjutnya normalisasi kebijakan moneter The Fed, atau bahkan penurunan suku bunga acuan The Fed, serta masuknya arus modal seiring dengan perbaikan ekonomi dan pendalaman pasar keuangan.

    Selain soal nilai tukar, pada rapat kali ini Banggar DPR dan pemerintah juga menyepakati pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 hingga 5,5 persen. Asumsi tersebut dinilai realistis dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi domestik dan prospek pelemahan ekonomi global, serta terobosan kebijakan yang akan ditempuh pemerintah.

    Mereka juga menyepakati asumsi laju inflasi 2020 sebesar 2,0 hingga 4,0 persen. Pencapaian diharapkan didukung oleh strategi umum pengendalian inflasi dengan menciptakan keterjangkauan harga, menjamin ketersediaan pasokan, memastikan kelancaran distribusi, dan melakukan komunikasi yang efektif dalam menjaga ekspektasi inflasi masyarakat.

    Adapun asumsi makro lainnya adalah tingkat bungan SPN 3 bulan yang dipatok sebesar 5-5,5 persen, harga minyak mentah Indonesia di kisaran US$ 60-70 per barel, lifting minyak bumi 695-840 ribu barel per hari, serta lifting gas bunyi 1,191-1,3 juta barel setara minyak per hari.

    Baca: Rupiah Diprediksi Cenderung Terkoreksi hingga 14.205 per USD

    Atas asumsi tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan akan menjadikan hasil rapat tersebut sebagai rambu dalam penyusunan nota keuangan final. Ia berjanji akan berkomunikasi bila ada perubahan di kemudian hari. "Dengan selesainya Panja, kami akan mulai finalisasi nota keuangan," kata dia.

    Simak berita lainnya terkait rupiah di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.