Stok Beras Menumpuk, Bulog Ajukan Izin Lepas 1 Juta Ton CBP

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo atau Jokowi (kedua kanan) didampingi Menteri Perdagangan Enggar Lukito (kanan), Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (buwas) (ketiga kiri) dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution melakukan peninjauan gudang beras milik Perum Bulog di divre DKI Jakarta-Banten, Kelapa Gading, Jakarta Utara, 10 Januari 2019. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi (kedua kanan) didampingi Menteri Perdagangan Enggar Lukito (kanan), Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (buwas) (ketiga kiri) dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution melakukan peninjauan gudang beras milik Perum Bulog di divre DKI Jakarta-Banten, Kelapa Gading, Jakarta Utara, 10 Januari 2019. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan perseroan kini tengah mengajukan izin kepada pemerintah untuk melepas 1 juta ton beras yang masuk dalam cadangan beras pemerintah (CBP). Dia mengatakan pelepasan ini dilakukan untuk menghindari penurunan kualitas dan mutu beras yang tersimpan di gudang milik Bulog.

    Baca: Budi Waseso Siap Mundur Jadi Dirut Bulog, Bila...

    "Menurut perhitungan kami 1 juta ini sudah satu tahun walaupun belum ada perubahan signifikan soal mutu. Tapi sesuai standar dalam negeri ya harus dikeluarkan yang 1 juta itu," kata Budi Waseso yang juga akrab disapa Buwas ini kepada media, di Gedung Bulog Corporate Univerity, Jakarta Selatan, Selasa 2 Juli 2019.

    Buwas mengatakan 1 juta ton yang tengah diajukan untuk dilepas tersebut merupakan beras sisa pengadaan impor yang dilakukan tahun lalu. Seperti diketahui sebelumnya, pemerintah telah melakukan impor beras untuk periode Januari-Agustus 2018 sebesar 1,4 juta ton.

    Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional ini menjelaskan pelepasan beras CBP tersebut bisa dilakukan lewat berbagai skema. Misalnya dengan cara melakukan penjualan secara komersial di pasar domestik. Atau bisa juga dilakukan lewat ekspor ke negara tetangga.

    Menurut Buwas, negara seperti Papua Nugini atau Timor Leste saat ini masih membutuhkan pasokan beras. Opsi ini bisa dilakukan, jika Bulog juga tidak diberikan penugasan untuk mendistribusikan beras yang semakin menumpuk di gudang.

    "Melepas 1 juta ton mekanismenya harus diajukan, lalu diijinkan tidak oleh negara kami lepas. Sehingga kami punya peluang untuk serap banyak lagi, kalau enggak dikasih kami tidak bisa serap lagi," kata Buwas.

    Sementara itu, selama ini penyaluran beras dari Bulog paling banyak ialah melalui skema program beras sejahtera (rastra). Namun, program tersebut saat ini telah diganti dengan skema Bantuan Pangan Non Tunai atau BPNT. Sayangnya, hadirnya program baru ini justru membuat kesempatan Bulog untuk menyalurkan beras menjadi berkurang.

    Baca: Bulog Tak Dilibatkan dalam BPNT, Buwas: Alhamdulillaah...

    Akibatnya, saat ini, menurut Buwas beras yang telah ada di gudang akan menumpuk. Menurut catatan Bulog sampai saat ini beras yang tersimpan telah mencapai angka 2,2 juta ton. Apalagi pada Agustus mendatang, Bulog diperkirakan mesti menyerap beras akibat sudah mulainya masa panen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.