KKP dan FAO Kerja Sama Bikin Ikan Pindang Lebih Punya Nilai Jual

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tiga nelayan memilih ikan yang akan dipindang di Rembang, Jawa Tengah, (12/1). Buruknya kualitas ikan pindang membuat harganya turun dari Rp.900 menjadi 600 rupiah perekor. Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto

    Tiga nelayan memilih ikan yang akan dipindang di Rembang, Jawa Tengah, (12/1). Buruknya kualitas ikan pindang membuat harganya turun dari Rp.900 menjadi 600 rupiah perekor. Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan atau KKP bersama organisasi internasional, Food and Agriculture Organization atau FAO meluncurkan Unit Pengolahan Ikan Pindang Higienis di Dusun Lekok, Desa Gondang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Unit pengolahan ini didirikan sebagai upaya perbaikan rantai nilai pangan pada pengolahan dan peningkatan produktivitas dari komoditas ikan pindang di masyarakat.

    BACA: Indonesia-Jepang Kerja Sama Konservasi Karbon untuk Mitigasi Perubahan Iklim

    Kementerian menyatakan UPI Pindang Higienis ini merupakan bagian dari “Development of Effective and Inclusive Food Value Chains in ASEAN Member States” yang didanai oleh Jepang. Dengan adanya UPI Pindang Higienis ini, Ikan Pindang diharapkan bisa masuk ke pasar-pasar baru. 

    “Proyek ini merupakan wujud peningkatan ketahanan pangan dan nilai ekonomi terutama untuk usaha kecil dengan fokus produk olahan pindang karena mampu meningkatkan peluang akses pasar baru,” kata Direktur Pengolahan dan Bina Mutu, Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, KKP, Innes Rachmania dalam keterangan pers yang diterima Tempo di Jakarta, Sabtu, 29 Juni 2019.

    BACA: Lima Nelayan Indonesia Dipulangkan dari Malaysia

    Innes menjelaskan, UPI Pindang Higienis ini dibangun dalam di areal seluas 65 meter persegi dengan kapasitas produksi sekitar 500 kilogram per hari. Pembangunannya menelan biaya Rp 332 juta lebih. Lalu di dalam UPI ini, terdapat bantuan peralatan pengolahan ikan dari Jepang yaitu seperti boiling table, cooker hood, washing table, hingga timbangan digital. Total peralatan yang dihibahkan ini mencapai Rp 84.4 juta.

    Selain dilengkapi oleh peralatan pengolahan Ikan Pindang, UPI ini juga dilengkapi dengan IPAL atau Instalasi Pengolahan Air Limbah berukuran 7,5 meter persegi. IPAL ini terdiri dari empat chamber penampungan. Selain itu, terdapat 50 orang pengolah yang telah dilatih ilmu sanitasi, pengelolaan limbah, dan kewirausahaan.  

    Innes menambahkan, produk yang dihasilkan dari unit pengolahan yang ada saat ini hanyalah pindang presto dan pindang higienis. Namun ke depan tidak menutup kemungkinan untuk pembuatan produk seperti abon atau yang lainnya. “Dengan pengolahan ikan pindang higienis ini maka hasil produk olahannya bisa lebih bersih, bergizi, dan mempunyai nilai tambah,” kata dia.

    Sementara itu, perwakilan FAO Indonesia, Stephen Rugard menyebutkan pembangunan pengolahan ikan pindang higienis ini memang bukanlah proyek besar, tapi mempunyai efek yang besar. Sebab, UPI ini dapat meningkatkan taraf ekonomi dan meningkatkan gizi masyarakat. “Kami berterima kasih kepada KKP maupun pemerintah daerah yang mampu merealisasikan proyek ini,” kata dia.

    Pengolahan pindang ini, memang merupakan usaha yang sudah berjalan lebih dari ratusan tahun lalu. Menurut Stephen, dalam hal ini, FAO hanya memperbaiki manajemen bisnis, sanitasi, dan lainnya untuk meningkatkan nilai dan gizi ikan pindang ini. “Makanya saya akan perkenalkan ikan pindang ke keluarga saya bahkan ke dunia,” ujar Stephen.

    Baca berita tentang KKP lainnya di Tempo.co


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.