Survei SMRC: Persepsi Publik soal Ekonomi Tak Terganggu Demo Mei

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang kembali berjualan di trotoar Jalan Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta, Kamis, 23 Mei 2019. Pasca kerusuhan 22 Mei yang terjadi di kawasan Tanah Abang, kegiatan jual beli pusat fashion terbesar ini kembali bergeliat. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Pedagang kembali berjualan di trotoar Jalan Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta, Kamis, 23 Mei 2019. Pasca kerusuhan 22 Mei yang terjadi di kawasan Tanah Abang, kegiatan jual beli pusat fashion terbesar ini kembali bergeliat. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, JakartaSurvei Saiful Mujani Research and Consulting teranyar menunjukkan kerusuhan pasca pengumuman hasil Pemilihan Umum 2019 pada 21-22 Mei 2019 tidak mengganggu persepsi publik soal ekonomi.

    Baca: Aksi 22 Mei Berujung Ricuh, Kemenko Ekonomi: Beda dengan 1998

    "Memang kami tidak melihat ke pengusaha secara khusus, ini mencerminkan rata-rata pemilih nasional," ujar Direktur Program SMRC Sirojudin Abbas di Kantor SMRC, Jakarta, Ahad, 16 Juni 2019.

    Misalnya saja untuk perekonomian rumah tangga, hasil sigi menunjukkan bahwa persepsi masyarakat pasca kerusuhan itu tidak menjadi lebih buruk. Berdasarkan survei, Abbas mengatakan 43 persen menjawab kondisi perekonomian rumah tangganya lebih baik dari tahun lalu, 34 persen menjawab tak ada perubahan, dan 17 persen menjawab lebih buruk.

    Hal serupa juga terjadi pada survei mengenai persepsi perekonomian nasional. Abbas berujar 40 persen menganggap perekonomian nasional lebih baik dari tahun lalu, 35 persen menjawat tidak ada perubahan, dan 36 persen menjawab lebih buruk. "Jadi, secara umum masyarakat merasa tidak terdampak."

    Abbas mengatakan anggapan itu terjadi lantaran masyarakat sudah semakin berpengalaman menghadapi dan melewati ketegangan politik. Mereka sudah berpengalaman melalui Pemilihan Umum 1999 hingga sekarang, Pemilihan Ligislator, hingga Pemilihan Kepala Daerah. 

    Di samping itu, ujar Abbas, masyarakat juga tidak mengalami goncangan secara serius di ekonomi rumah tangganya. Misalnya saja dilihat dari daya beli dan ketersediaan kebutuhan dasar bagi mereka. "Itu mereka yang menilai," kata dia.

    Lantas, tutur Abbas, lembaganya juga mencoba mengecek dengan melihat tren angka inflasi nasional. Ternyata dalam beberapa waktu terakhir juga tak terlihat adanya lonjakan pada angka inflasi alias masih di bawah 4 persen. "Kalau ada lonjakan inflasi gara-gara peristiwa politik baru berdampak. Itu salah satu sebabnya karena inflasi terjaga di bawah 4 persen," kata Abbas.

    Baca: Sri Mulyani: Infrastruktur Rampung Bisa Picu Ekonomi Lebih Merata

    Survei dilakukan dengan metode wawancara terhadap 1220 responden yang ditarik secara acak di seluruh Indonesia pada 20 Mei - 1 Juni 2019 dengan margin of error 3,05 persen.

    Simak berita lainnya terkait ekonomi di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.