Target Investasi pada 2020 Dinilai Tak Realistis, Ini Alasannya

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto aerial pembangunan infrastruktur jembatan Wear Arafura di Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku, 29 April 2018. Pembangunan jembatan sepanjang 323 meter yang menghubungkan Pulau Yamdena dengan Pulau Larat oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional XVI Ambon. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    Foto aerial pembangunan infrastruktur jembatan Wear Arafura di Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku, 29 April 2018. Pembangunan jembatan sepanjang 323 meter yang menghubungkan Pulau Yamdena dengan Pulau Larat oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional XVI Ambon. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Target investasi yang disebut pemerintahan Jokowi bakal dibutuhkan pada 2020 dinilai kurang realistis. Pasalnya, penanaman modal asing atau PMA bakal terganjal perlambatan ekonomi global dan perang dagang. 

    Baca: Genjot Pertumbuhan, Sri Mulyani: Butuh Investasi Rp 5.823 Triliun

    Hal ini disampaikan oleh peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance atau Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara. Sementara investasi yang berasal dari belanja modal pemerintah, porsinya sulit dinaikkan terlalu tinggi karena rasio pajak makin berat sehingga khawatir defisit anggaran melebar.

    Sedangkan, untuk penanaman modal dalam negeri (PMDN) bergantung pada strategi BUMN apakah tetap memacu proyek infrastruktur. Sementara utang BUMN meningkat pesat dan volatilitas makro bisa membuat risiko pendanaan naik.

    "Jadi outlook investasi masih lambat. PMTB bisa tumbuh 5-6 persen saja sudah bagus untuk 2020," ujar Bhima, Jumat, 14 Juni 2019.

    Bhima menilai pemerintah sebaiknya tidak terlalu overestimate dalam menetapkan target pada APBN 2020. Apalagi, tahun depan ada pemilu di Amerika Serikat (AS) yang berpotensi timbulnya eskalasi baru.

    Pasalnya, Presiden AS Donald Trump dikhawatirkan menggunakan trade war sebagai senjata politik. Atas hal tersebut, kondisi bisa saja mengalami eskalasi tidak mereda dalam waktu dekat dan berpengaruh ke keputusan investasi. "Jadi kalau dipasang 5-6 persen, angka PMTB-nya berdasar harga berlaku tahun 2020, berkisar Rp 5.382 triliun," ujarnya.

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya mengatakan bahwa untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pada 2020 yang dipatok antara 5,3 - 5,6 persen, pemerintah memerlukan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang harus tumbuh di angka 7 persen - 7,4 persen.

    Artinya dengan kebutuhan tersebut, PMTB atau investasi yang dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sebanyak Rp 5.802,6 triliun untuk pertumbuhan 5,3 persen dan Rp 5.823,2 triliun untuk pertumbuhan ekonomi 5,6 persen.

    Investasi dari sektor swasta atau masyarakat juga menjadi tumpuan dari pencapaian target tersebut. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, kebutuhan PMTB dari sektor swasta sebesar Rp 4.221,3 triliun untuk 5,3 persen dan Rp 4.205,5 triliun.

    Baca: Jokowi Soal Investasi dan Ekspor RI: Jangan Sampai Disalip Laos

    "Ini yang menggambarkan bahwa untuk bisa mencapai pertumbuhan ekonomi 5,3 persen hingga 5,6 persen peranan investasi swasta menjadi sangat penting sehingga policy-policy yang berhubungan dengan kebijakan investasi menjadi sangat kunci," kata Sri Mulyani di hadapan Komisi XI DPR RI, Kamis, 13 Juni 2019.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Instagram Uji Coba Menghilangan Fitur Likes agar Fokus ke Konten

    Instagram tengah lakukan uji coba penghapusan fitur likes di beberapa negara pada Juli 2019. Reaksi pengguna terbelah, sebagian merasa dirugikan.