Sidang MK Gugatan Prabowo, Rupiah Diprediksi Masih Melemah

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas money changer menghitung mata uang dolar. Rupiah semakin tertekan terhadap nilai tukar dolar Amerika Serikat, di level Rp14.060 per Dolar AS. Jakarta, 25 Agustus 2015. TEMPO/Subekti

    Petugas money changer menghitung mata uang dolar. Rupiah semakin tertekan terhadap nilai tukar dolar Amerika Serikat, di level Rp14.060 per Dolar AS. Jakarta, 25 Agustus 2015. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Sidang perdana yang digelar oleh Mahkamah Konstitusi (Sidang MK) Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) untuk Pemilihan Presiden atau Pilpres 2019 berlangsung pada hari ini, Jumat, 14 Juni 2019. Sidang tersebut diajukan oleh Badan Nasional Pemenangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan hasil penghitungan suara pada 20 Mei 2019.

    Baca: Sidang Gugatan Pilpres Dimulai: Tak Ada Pembatasan Medsos Jika...

    Berdasarkan penghitungan suara KPU, pasangan calon nomor urut 01, Joko Widodo atau Jokowi - Ma'ruf Amin mendapat 85.607.362 suara atau sebesar 55,50 persen. Adapun pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto - Sandiaga Uno mendapat 68.650.239 suara atau sebesar 44,50 persen. Total jumlah sah pada pemilu 2019 mencapai 154.257.601.

    Kubu Prabowo mendaftarkan gugatan hasil penghitungan suara ini pada 24 Mei 2019. Ada beberapa alasan mereka menggugat hasil rekapitulasi suara tersebut. Salah satunya, mereka menuding ada kecurangan yang bersifat terstruktur, sistematis, dan masif.

    Berbarengan dengan digelarnya Sidang MK tersebut, nilai tukar rupiah hari ini diprediksi masih melanjutkan pelemahan di sekitar level Rp 14.245 - Rp 14.285 per dolar AS.

    Sebelumnya, pada 22 Mei 2019 lalu, ketika terjadi unjuk rasa dan berujung pada bentrokan antara massa pendukung Prabowo yang menolak perhitungan rekapitulasi suara Pilpres oleh KPU, rupiah melemah 26 poin atau 0,17 persen dari Rp 14.162 menjadi Rp 14.488 per dolar AS. 

    Currency Strategist Scotiabank Singapura, Gao Qi, juga mengatakan bahwa lesunya selera investasi aset berisiko saat ini tengah membebani pasar yang juga berdampak pada mata uang emerging market di Asia. 

    "Mata uang emerging market di Asia melemah karena Trump telah menaikkan prospek sanksi untuk memblokir pipa gas alam di Eropa yang semakin membebani pertumbuhan ekonomi dunia," ujar Gao Qi seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis, 13 Juni 2019.

    Kurs rupiah kemarin ditutup terdepresiasi seiring dengan berkurangnya selera investasi aset berisiko akibat kekhawatiran pasar terkait dengan perlambatan ekonomi global. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup pada level Rp 14.280 per dolar AS.

    Baca: Ricuh Demo 22 Mei, Rupiah Melemah 26 Poin

    Artinya, nilai tukar rupiah kemarin melemah 0,27 persen atau 39 poin terhadap dolar AS. Pelemahan rupiah kali ini membawa mata uang garuda menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di antara kelompok mata uang Asia.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.