Selain Harga Tiket Pesawat, Biaya Logistik di RI Dinilai Mahal

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi tiket pesawat (pixabay.com)

    ilustrasi tiket pesawat (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat transportasi dari Universitas Indonesia, Ellen Tangkudung, menilai persoalan konektivitas di Indonesia saat ini bukan hanya perihal mahalnya harga tiket pesawat. Namun juga tingginya biaya logistik yang menyebabkan harga komoditas turut melonjak.

    Baca juga: Kaji Masuknya Maskapai Asing, Pemerintah Gelar Rapat Pekan Depan

    "Infrastruktur sudah mulai dibangun, tapi dibanding negara lain kita punya biaya logistik yang lebih tinggi. Ini persoalan," ujar Ellen dalam diskusi bertajuk Konektivitas Memacu Pertumbuhan Berkualitas di Hotel Morrisey, Jakarta Pusat, Rabu, 12 Juni 2019.

    Ellen mencontohkan, wujud nyata mahalnya biaya logistik adalah perbandingan harga jeruk Cina dan Medan di pasar. Lantaran ongkos antar yang tinggi, jeruk asli Medan acap kalah murah dengan jeruk asal Negeri Tirai Bambu.

    Padahal, menurut Ellen, semestinya harga komoditas Tanah Air lebih murah bila dijual di negeri sendiri ketimbang komoditas dari luar negeri yang dijual di Indonesia. Ellen mengatakan, mahalnya biaya logistik terjadi salah satunya karena belum efisiennya waktu angkut barang.

    Berdasarkan data yang dipaparkan, biaya logistik Indonesia saat ini terhitung paling tinggi di Asia. Cost logistik mencapai hampir 25 persen dari pendapatan domestik bruto atau PDB. Sedangkan di negara lain, seperti Cina, cost logistik tercatat kurang dari 15 persen dari PDB. 

    Masih buruknya manajemen logistik juga tercermin dalam pembatasan pengangkutan barang saat mudik Lebaran 2019 baru-baru ini. Ia berpendapat, pemerintah semestinya memilih alternatif kebijakan lain untuk memastikan lalu-lintas mudik berjalan lancar ketimbang mesti membatasi angkutan barang.

    "Yang pasti angkutan barang ini saat mudik dikalahkan. Truk logistik pasti enggak boleh lewat. Jangan lupa, bahwa truk itu mengangkut logistik," ucapnya.

    Selain menyoroti manajemen logistik, Ellen mengabsen kecepatan koneksi Internet di Indonesia masih rendah. Berdasarkan data yang ia paparkan, kecepatan Internet Indonesia di level ASEAN kalah dengan enam negara lain.

    "Paling atas Singapura, lalu Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, Laos, dan Brunei. Indonesia nomor tujuh, diikuti Mynmar dan Kamboja," ucapnya. Ellen mengatakan dua persoalan terkait konektivitas ini semestinya menjadi prioritas dan diselesaikan dalam waktu dekat.

    Baca berita Tiket Pesawat lainnya di Tempo.co


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.