BI Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh hingga 5,5 Persen pada 2020

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan pidato pembuka saat Indonesia Investment Forum 2018 di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Selasa 9 Oktober 2018. ICom/AM IMF-WBG/M Agung Rajasa

    Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan pidato pembuka saat Indonesia Investment Forum 2018 di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Selasa 9 Oktober 2018. ICom/AM IMF-WBG/M Agung Rajasa

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo optimistis ekonomi Indonesia akan tumbuh di kisaran 5,1 hingga 5,5 persen pada 2020. Kendati kondisi ekonomi global masih terdampak sengketa dagang antara Amerika Serikat dan Cina, Indonesia bakal mencatatkan tren pertumbuhan lantaran investasi swasta meningkat.

    BACA: Grab Klaim Sumbang Rp 49 T untuk Ekonomi Indonesia pada 2018

    "Investasi swasta baik bangunan maupun non-bangunan akan meningkat. Di tahun 2020, prospek ekonomi nasional lebih baik," ujar Perry dalam rapat badan anggaran atau Banggar bersama Dewan Perwakilan Rakyat, Menteri Keuangan, dan Menteri Bappenas di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Selasa, 11 Juni 2019.

    Selain prospek ekonomi bergerak positif, volume perdagangan dalam negeri ditengarai akan tumbuh lantaran investasi menguat. Meski demikian, Perry tak menampik bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun ini lebih rendah ketimbang yang diperkirakan.

    BACA: Darmin Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Lebih Tinggi

    Perlambatan ekonomi ditandai dengan menurunnya kinerja ekspor dan menurunnya investasi swasta. Setidaknya, kata dia, ada tiga faktor yang melatari pertumbuhan ekonomi hingga tak sesuai prediksi.

    Pertama, pertumbuhan ekonomi global lebih rendah dibandingkan dengan asumsi semula. "Ini terjadi karena stimulus fiskal terbatas dan juga masalah ketenagakerjaan," ucapnya.

    Dalam kondisi tekanan ekonomi global, Bank Dunia telah merevisi prospek pertumbuhan pendapatan domestik bruto secara global dari 3,6 persen menjadi 3,3 persen. Namun ia mengatakan pada 2020, pertumbuhan PDB global akan naik menjadi 3,4 persen.

    Kedua, volume perdagangan. Hal ini tercermin dari harga komoditas batu-bara dan minyak nabati yang diperkirakan melorot pada 2019. Adapun secara keseluruhan, harga komoditas ekspor tahun ini rata-rata turun 3,1 persen. "Pada 2020, seiring perbaikan prospek ekonomi dunia, diharapkan komoditas dunia sedikit membaik 0,1 persen," ucapnya.

    Sedangkan faktor ketiga ialah adanya ketidakpastian keuangan dunia pada 2019 masih terimbas eskalasi perang Amerika Serikat dan Tiongkok. Kondisi ini mendorong adanya peralihan modal asing ke negara-negara maju.

    Baca berita tentang Ekonomi Indonesia di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.