Jadi Destinasi Utama Mudik, Inflasi Mei Jateng Capai 0,33 Persen

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pembeli memilih makanan ringan di pusat oleh-oleh khas Brebes, Jawa Tengah, Jumat, 7 Juni 2019. Penjualan telur asin meningkat dari biasanya 1.000 butir menjadi 5.000 butir per hari. ANTARA/Oky Lukmansyah

    Sejumlah pembeli memilih makanan ringan di pusat oleh-oleh khas Brebes, Jawa Tengah, Jumat, 7 Juni 2019. Penjualan telur asin meningkat dari biasanya 1.000 butir menjadi 5.000 butir per hari. ANTARA/Oky Lukmansyah

    TEMPO.CO, Semarang -  Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat inflasi yang terjadi di provinsi ini selama Mei 2019 mencapai 0,33 persen. Kepala BPS Jawa Tengah, Sentot Widoyono, mengatakan, inflasi Mei itu lebih rendah jika dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,45 persen. 

    Baca: Harga Tiket Pesawat Turun, BI Prediksi Inflasi Mei 0,47 Persen

    Menurut dia, kenaikan harga cabai merah dan hijau serta gula pasir menjadi penyebab terjadinya inflasi. "Sementara penahan laju inflasi antara lain turunnya harga beras serta bawang merah dan putih," kata Sentot di Semarang, 10 Juni 2019.

    Jika dilihat dari enam daerah yang menjadi lokasi survei biaya hidup di Jawa Tengah, kata Sentot, inflasi tertinggi terjadi di Purwokerto yang mencapai 0,48 persen. Adapun inflasi terendah terjadi di Cilacap yang mencapai 0,19 persen.

    Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyampaikan terima kasih kepada para pemudik dari berbagai daerah yang singgah ke daerahnya saat mudik Lebaran. Para pemudik yang singgah dan membelanjakan uangnya itu sudah ikut meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

    "Pasti memberikan dampak ekonomi, namun secara statistik nanti bisa diukur dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Saya sendiri belum menghitung secara pasti, namun yang pasti mereka  memberikan banyak dampak pada ekonomi masyarakat," kata Ganjar di Semarang, Senin 10 Juni 2019.

    Menurut Ganjar, tradisi mudik Lebaran berdampak positif pada peningkatan ekonomi masyarakat daerah. Sebab, para pemudik pasti mengeluarkan uang untuk membeli kebutuhan masing-masing, baik saat di perjalanan maupun di kampung halaman masing-masing. Para pedagang, kata Ganjar, dipastikan mendapat berkah di hari Lebaran ini, salah satunya dari para pemudik.

    Ganjar memastikan akan memantau perkembangan data dari BPS terkait hitung-hitungan pertumbuhan ekonomi Jateng dan berharap sudah ada data pasti dalam tiga  hari ke depan. "Mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah ke luar datanya, jadi harapannya sudah ada hitung-hitungan secara pasti, tapi setidaknya dari pengamatan saya, pasti mendorong pertumbuhan ekonomi Jateng," katanya.

    Sebelumnya, saat menggelar acara open house di rumah dinasnya, Jalan Widya Chandra 1, pada hari Lebaran, Rabu, 5 Juni 2019, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati Dalam acara itu Sri Mulyani menyatakan harapannya konsumsi masyarakat selama Ramadan dan Lebaran berpengaruh positif terhadap kondisi ekonomi domestik.

    Baca juga: Inflasi Mei 0,68 Persen, BPS: Berbarengan dengan Momen Ramadan

    Salah satunya,  menurut Sri Mulyani, yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur jalan tol dan jalan penghubung di sejumlah daerah baik di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan juga Kalimantan serta di lokasi lainnya yang digunakan pemudik. "Kalau kita lihat modus untuk perjalanan masyarakat banyak yang menggunakan sekarang jalan darat, spilloverkepada ekonomi pada masing-masing kota tujuan diharapakan lebih banyak," kata Sri Mulyani Rabu 5 Juni 2019.

    ANTARA | DIAS PRASONGKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gerhana Bulan Parsial Umbra Terakhir 2019

    Pada Rabu dini hari, 17 Juli 2019, bakal terjadi gerhana bulan sebagian. Peristiwa itu akan menjadi gerhana umbra jadi yang terakhir di tahun 2019.