Pemudik Minta Pertamina Sediakan Premium di Tol Trans Sumatera

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Petugas mengisi Premium ke tangki sepeda motor di salah satu SPBU di Jakarta, Rabu, 10 Oktober 2018. Hukum ekonomi mengatur bahwa BBM, yang bahan baku utamanya minyak mentah, memang harus naik harganya jika harga minyak mentah dunia naik. Harga minyak mentah dunia sudah naik lebih dari dua kali lipat atau 200 persen sejak 2016 berkisar US$ 32 per barel, dan saat ini melambung di kisaran US$ 80 per barel. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    Petugas mengisi Premium ke tangki sepeda motor di salah satu SPBU di Jakarta, Rabu, 10 Oktober 2018. Hukum ekonomi mengatur bahwa BBM, yang bahan baku utamanya minyak mentah, memang harus naik harganya jika harga minyak mentah dunia naik. Harga minyak mentah dunia sudah naik lebih dari dua kali lipat atau 200 persen sejak 2016 berkisar US$ 32 per barel, dan saat ini melambung di kisaran US$ 80 per barel. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.CO, Lampung Selatan - Pemudik yang melintasi Jalan Tol Trans Sumatera atau JTTT, ruas Bakauheni, Lampung hingga Kayu Agung, Sumatera Selatan meminta Pertamina untuk menjual bahan bakar minyak atau BBM jenis premium dan pertalite.

    BACA: Arus Mudik H-3, Tol Medan-Kualanamu Lengang

    "Saya berharap Pertamina dapat menyediakan BBM jenis premium dan pertalite di titik penjualan BBM yang disediakan Pertamina," kata Budi, salah seorang pemudik dari Surabaya, di rest area Km33 JTTS, Lampung Selatan, Selasa, 4 Juni 2019.

    Menurut dia, SPBU modular maupun kios yang disediakan Pertamina di sejumlah titik penjualan Jalan Tol Trans Sumatera, hanya menjual BBM jenis pertamax. BBM jenis pertamax, lanjutnya, harganya cukup mahal dibandingkan premium maupun pertalite.

    "Pemudik yang melintasi jalan tol, sebagian besar dari kalangan menengah menggunakan mobil berkekuatan 1.200 hingga 1.500 cc. Sehingga tak semua kendaraan yang digunakan melintasi jalan tol harus menggunakan pertamax," ujarnya.

    BACA: Minim Petugas, Tol Fungsional Menuju Mesuji Palembang Macet

    Budi yang mengaku akan berlebaran di Pematang Panggang, Mesuji itu menambahkan, pada arus balik nanti diharapkan Pertamina menyediakan BBM jenis premium maupun pertalite agar terjangkau oleh pemudik.

    Haris, 30 tahun, pemudik lainnya asal Bandung juga mengatakan hal yang sama, yakni meminta Pertamina menyediakan BBM jenis premium dan pertalite di sejumlah titik di JTTS ini.

    "Harga premium dan pertalite kan lebih murah dibandingkan pertamax. Karena itu saya berharap Pertamina menjualnya untuk mengurangi biaya perjalanan mudik," tambahnya.

    Sementara itu, sejak Satuan Tugas Ramadan Idul Fitri atau Satgas Rafi 1440 H dimulai pada 21 Mei 2019, tren konsumsi BBM menunjukan peningkatan siginifikan, terutama BBM jenis pertamax yang naik hingga 19,1 persen untuk produk gasoline dan bio dolar 31,9 persen untuk gasoil.

    Satgas Rafi yang bertugas memastikan kelancaran distribusi dan keamanan stok BBM serta elpiji ini akan bertugas hingga H+15, yaitu tanggal 21 Juni 2019.

    "Dari rata-rata harian normal, ada peningkatan sekitar 19,1 persen untuk produk pertamax, disusul pertalite naik 11,4 persen, kemudian premium 5,9 persen," kata Region Manager Communication & CSR, Pertamina Sumabgsel, Rifky Rakhman Yusuf.

    Namun, lanjut dia, pertamax turbo mengalami penurunan sekitar 6,4 persen. Sedangkan untuk gasoil, bio solar masih berada di peringkat tertinggi yaitu naik 31,9 persen, disusul pertamina dex 25 persen dan dexlite 17, 2 persen.

    Puncak konsumsi BBM tertinggi terjadi pada 30 Mei 2019, berdasarkan data yang kami terima juga peningkatan konsumsi ini juga dikarenakan jumlah kendaraan yang masuk melalui ruas jalan Bakauheuni - Terbanggi Besar mencapai 18 ribuan kendaraan.

    Baca berita tentang Tol Trans Sumatera lainnya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    DKI Tutup Sementara PTM 100 Persen di Sekolah yang Terpapar Covid-19

    Pemprov DKI Jakarta menutup sejumlah sekolah yang menggelar PTM 100 persen karena terpapar Covid-19. Namun sejumlah sekolah sudah kembali berkegiatan.