Buntut Perang Dagang, Maskapai Global Koreksi Proyeksi Laba

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siluet petugas kebersihan bekerja dengan latar belakang pesawat komersial maskapai Citilink terparkir di Yogyakarta International Airport (YIA) saat

    Siluet petugas kebersihan bekerja dengan latar belakang pesawat komersial maskapai Citilink terparkir di Yogyakarta International Airport (YIA) saat "Proving Flight" di Kulon Progo, DI Yogyakarta, Kamis 2 Mei 2019. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Kekhawatiran akan meluasnya perang dagang Amerika Serikat-Cina yang berimbas pada bisnis internasional, industri penerbangan global pun merevisi proyeksi bisnisnya. Maskapai penerbangan global dilaporkan telah memangkas proyeksi laba mereka sebesar  21 persen karena cemas perang dagang akan meluas dan harga minyak semakin tinggi.

    BACA: Trump Naikkan Tarif Produk Impor Asal Cina dan Meksiko, Sebab..

    The International Air Transport Association (IATA), organisasi yang merepresentasikan sekitar 290 maskapai atau lebih dari 80 persen lalu lintas udara global, mengungkapkan bahwa industri berharap dapat mencetak laba US$ 28 miliar pada 2019. Proyeksi itu sendiri turun 21 persen dari proyeksi sebelumnya sebesar US$35,5 miliar yang diumumkan pada Desember 2018.

    Direktur Jenderal IATA, Alexandre de Juniac ,menuturkan maskapai masih akan mendapatkan keuntungan pada 2019. Akan tetapi, hal tersebut bukan sesuatu yang mudah untuk direalisasikan.

    “Agenda politik proteksionis dan isolasionis sedang meningkat,” ujarnya seperti dilansir melalui Reuters, Ahad 2 Juni 2019.

    Pada 2018, Alexandre menyebut laba yang yang dikantongi maskapai global mencapai US$ 30 miliar. Namun, pasar kargo udara, yang menjadi sumber pendapatan tambahan operator penerbangan, telah melemah secara substansial.“Anda telah melihat bahwa perdagangan internasional sekarang berada pada tingkat pertumbuhan nol sehingga berdampak langsung kepada bisnis kargo kami,” tutur dia.

    Baca: Di Tokyo, Sri Mulyani Singgung Soal Perang Dagang AS - Cina

    IATA semula memproyeksikan pertumbuhan kapasitas penumpang mencapai 6,9 persen. Namun kini, angka itu diperkirakan akan melambat memenjadi 4,7 persen. Tren tarif diprediksi datar setelah terjadi penurunan 2,1 persen pada 2018.

    Ikuti berita terbaru terkait perang dagang Amerika Serikat-Cina di Tempo.co

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.