IHSG Dibuka Menguat Menjelang Libur Lebaran 2019

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

    Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dibuka menguat pada perdagangan akhir pekan menjelang dimulainya libur lebaran, Jumat 31 Mei 2019. Indeks saham acuan tercatat menguat ke level 6.165,794 atau naik sebesar 1,01 persen pada pukul 10.08 WIB.

    BACA: Menjelang Libur Lebaran IHSG Berpeluang Lanjutkan Koreksi

    Dikutip dari RTI, sepanjang perdagangan sebanyak 217 saham menguat, 98 melemah dan 147 saham tak bergerak. Adapun sebanyak Rp 456,02 miliar dana asing tercatat masuk lewat pasar saham.

    Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan hari ini IHSG berpotensi mengalami koreksi wajar. Hal ini sejalan dengan analisa teknikal dari sejumlah indikator. Misalnya, MACD sudah berhasil membentuk pola golden cross di area negatif.

    BACA: Pasca Demo 22 Mei, IHSG dan Rupiah Kompak Menguat

    Adapula terlihat bahwa indikator Stochastic dan RSI berada di area netral. "Dari sana terlihat pola bearish inside bar yang mengindikasikan adanya potensi koreksi wajar pada pergerakan IHSG sehingga berpeluang menuju ke area support," kata Nafan ketika dihubungi Tempo, Jumat.

    Nafan menjelaskan, potensi koreksi wajar ini terjadi salah satunya karena adanya aksi profit taking menjelang lebaran. Selain itu, dia melihat saat ini IHSG juga masih minim sentimen dalam negeri sehingga diperkirakan perdagangan bakal ditutup koreksi wajar.

    Lebih lanjut, Nafan juga mengingatkan sentimen eksternal dari perang dagang antara Amerika Serikat dengan Cina bagi pergerakan IHSG. Faktor, ketidakpastian ekonomi di seluruh dunia juga masih menghantui gerak IHSG hari ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.