Ke Jepang, Menperin Incar Investasi Sektor Kimia Hingga Baja

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto melakukan kick off suplai chain industri kecil menengah ke Toyota. TEMPO/Eko Ari Wibowo

    Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto melakukan kick off suplai chain industri kecil menengah ke Toyota. TEMPO/Eko Ari Wibowo

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto melakukan kunjungan kerja ke Jepang selama empat hari mulai hari ini hingga 31 Mei 2019 mendatang. Kunjungan ini merupakan upaya meningkatkan kerja sama bilateral dengan Jepang di bidang ekonomi, termasuk peningkatan investasi sektor industri.

    Baca: Prabowo Sebut Deindustrialisasi, Kemenperin: RI Ranking 5 di G20

    Menurut Airlangga, untuk meningkatkan daya saing manufaktur nasional di era industri 4.0, pemerintah perlu melakukan langkah-langkah strategis melalui penguatan kerja sama. "Salah satunya dengan Jepang sebagai mitra strategis, yang selama ini hubungan perdagangan kedua negara terus mengalami peningkatan," kata Airlangga dalam keterangan tertulis, Selasa, 28 Mei 2019.

    Adapun rangkaian kegiatan Menperin di Jepang, antara lain bertemu dengan sejumlah direksi dari perusahaan besar seperti Sojitz Corporation, Nippon Steel dan Fujitrans. Selain itu, dijadwalkan pula pertemuan dengan asosiasi usaha, Keidanren. "Kami akan mendorong pengembangan industri kimia. Hal ini akan dibahas pada pertemuan kami dengan direksi Sojitz Corporation," ujarnya.

    Beberapa waktu lalu, Sojitz Corporation telah menyatakan minatnya untuk membangun pabrik methanol kedua di Indonesia. Sojitz Group yang memiliki sekitar 400 anak perusahaan dan afiliasi, baik yang berlokasi di Jepang maupun di seluruh dunia, mengembangkan operasinya secara luas sebagai perusahaan dagang di banyak negara dan wilayah.

    Menurut Airlangga, mereka berinvestasi di beragam sektor seperti otomotif, sumber daya energi dan mineral, bahan kimia, bahan baku pangan, agrikultur, hasil hutan, barang konsumsi, serta kawasan industri.

    "Kami akan bertemu juga dengan federasi bisnis Jepang, Keindanren yang merupakan organisasi ekonomi yang komprehensif dengan keanggotaan terdiri dari 1.376 perusahaan perwakilan Jepang, 109 asosiasi industri nasional dan 47 organisasi ekonomi regional," kata Airlangga.

    Menurut dia peningkatan investasi sangat penting untuk mendongkrak kemampuan manufaktur nasional agar lebih berdaya saing global. Investasi Jepang di Indonesia merupakan yang terbesar kedua pada tahun 2017. Peningkatan investasi sepanjang periode 2013 hingga 2017 melonjak pesat, dari sebelumnya 1.438 perusahaan menjadi 1.911 perusahaan.

    Baca juga: Airlangga Hartarto: Jawa Barat Menarik Sebagai Ibu Kota Baru

    Selanjutnya, dalam upaya menguatkan sektor industri baja nasional, Airlangga bertemu dengan jajaran direksi Nippon Steel. Menurut dia, industri baja merupakan sektor hulu atau disebut juga mother of industries karena berperan penting untuk memasok kebutuhan bahan baku dalam mendukung proyek infrastruktur dan menopang kegiatan sektor industri lainnya.

    Upaya untuk menggaet investasi itu sejalan dengan upaya Kementerian Perindustrian yang sedang fokus mengakselerasi pembangunan klaster industri baja di Cilegon, Banten yang ditargetkan bisa memproduksi hingga 10 juta ton baja pada tahun 2025. Selain itu, Kemenperin juga mempercepat pembangunan klaster industri baja di Batulicin, Kalimantan Selatan dan Morowali, Sulawesi Tengah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.