Diskriminasi Sawit, Malaysia Ajak Indonesia Lapor WTO

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja memeriksa pipa gas metan di instalasi Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) Biogas berkapasitas 700 kilowatt di Pabrik Kelapa Sawit PT Perkebunan Nusantara  V Terantam, Kabupaten Kampar, Riau (4/3/2019).  ANTARA FOTO/FB Anggoro

    Pekerja memeriksa pipa gas metan di instalasi Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) Biogas berkapasitas 700 kilowatt di Pabrik Kelapa Sawit PT Perkebunan Nusantara V Terantam, Kabupaten Kampar, Riau (4/3/2019). ANTARA FOTO/FB Anggoro

    TEMPO.CO, Jakarta - Malaysia mengajak Indonesia untuk bekerja sama  mengadukan masalah diskriminasi biofuel kelapa sawit oleh Uni Eropa ke World Trade Organization atau WTO.

    Baca juga: JK Tagih Janji Cina Naikkan Impor Sawit dari RI

    Seperti dilansir dari Bloomberg, Menteri Industri Primer Malaysia Teresa Kok mengatakan bahwa pihaknya akan mengatur pertemuan dengan para pejabat dari negara produsen CPO utama pada Juli, untuk membicarakan masalah pembatasan CPO oleh UE.

    Selain itu, Teresa juga berencana untuk bertemu dengan anggota Komisi Uni Eropa yang baru untuk menegosiasikan perdagangan minyak kelapa sawit setelah pemilihan umum Uni Eropa berakhir.

    "Kami berharap dapat meyakinkan UE bahwa tidak ada alasan untuk menghentikan penggunaan kelapa sawit dalam bahan baku biofuel, karena tanaman tersebut dapat diproduksi secara berkelanjutan," ujar Teresa seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat 24 Mei 2019.

    Seperti diberitakan,  pada Selasa 22 Mei 2019 lalu, Uni Eropa telah merilis regulasi yang menerapkan kriteria baru tentang penggunaan sawit dalam biofuel . Aturan baru ini akan mulai diberlakukan pada 10 Juni mendatang. Regulasi tersebut akan memiliki sistem sertifikasi dan pembatasan jenis biofuel dari minyak sawit, yang merupakan bagian dari energi terbarukan UE.

    Selain itu, UE menetapkan batasan penggunaan kelapa sawit untuk periode 2021-2023 di level yang sama dengan 2019, yang kemudian akan diikuti dengan pengurangan bertahap pada 2030.

    Di sisi lain, harga CPO berjangka masih melanjutkan pelemahannya pada perdagangan Jumat 24 Mei 2019, seiring dengan proyeksi penurunan permintaan dari Eropa yang semakin nyata. Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 14.05 WIB, harga CPO di bursa Malaysia melemah 0,64 persen menjadi 2.003 ringgit per ton, melanjutkan pelemahannya sejak 3 hari berturut-turut. Sepanjang tahun berjalan, harga CPO telah bergerak melemah sebesar 2,2 persen.

    Teresa menambahkan, kini Malaysia tengah berupaya untuk meningkatkan ekspor produk sawit ke Cina melalui promosi dengan asosiasi perdagangan dan kamar dagang dan tengah mencari cara baru untuk memasarkan CPO di pasar China. "China memiliki kapasitas besar untuk menyerap minyak kelapa sawit," tutur dia.

    BISNIS

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.