Menperin: Ekspor Produk Manufaktur Masih Tertinggi

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo saat melepas ekspor produk manufaktur ke AS, dari pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 15 Mei 2018. Ekspor kali ini menggunakan Kapal CMA CGM Tage yang memiliki kapasitas sekitar 10.000 TEUs. Jokowi mengatakan penggunaan kapal raksasa secara langsung (direct call) akan memberikan daya saing produk-produk Indonesia terhadap produk-produk dari negara lain. TEMPO/Tony Hartawan

    Presiden Joko Widodo saat melepas ekspor produk manufaktur ke AS, dari pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 15 Mei 2018. Ekspor kali ini menggunakan Kapal CMA CGM Tage yang memiliki kapasitas sekitar 10.000 TEUs. Jokowi mengatakan penggunaan kapal raksasa secara langsung (direct call) akan memberikan daya saing produk-produk Indonesia terhadap produk-produk dari negara lain. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengatakan bahwa industri pengolahan nonmigas konsisten memberikan kontribusi paling besar terhadap nilai ekspor nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik atau BPS pada April 2019, ekspor produk manufaktur ini mencapai US$ 9,42 miliar atau menyumbang sebesar 74,77 persen dari total ekspor Indonesia.
     
     
    “Beberapa hal yang terkait dengan defisit neraca perdagangan, sebetulnya kalau kita bicara industri nonmigas, masih positif. Secara kumulatif, volume ekspor Januari-April 2019 meningkat 10,22 persen dibanding periode yang sama di tahun 2018, yang disumbang oleh peningkatan ekspor nonmigas sebesar 13,07 persen,” kata Menteri  Airlangga dalam keterangan tertulis, Ahad, 19 Mei 2019.
     
    Sejumlah komoditas nonmigas yang nilai ekspornya naik pada April 2019 dibanding Maret 2019 adalah karet dan barang dari karet senilai US$ 72,4 juta (15,10 persen), bubur kayu/pulp US$ 51,7 juta (21,39 persen), alas kaki US$ 30 juta (8,66 persen), pupuk US$ 23,9 juta (66,36 persen), serta berbagai produk kimia US$ 23,8 juta (6,64 persen).
     
    Menurut dia, sejumlah produk manufaktur Indonesia yang masih agresif tembus pasar ekspor, seperti makanan dan minuman, pakaian dan alas kaki, serta kendaraan dan komponennya.
      
    “Kami terus mendorong produsen dalam negeri melakukan substitusi impor. Jadi, substitusi impor itu harus ada dari barang yang di dalam negeri dan kami dorong untuk ekspor ke luar negeri," ujar Airlangga.
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.