Upah Mahal, Investor Tekstil dan Garmen Hengkang dari Jawa Barat

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja menyelesaikan produksi kain sarung di Pabrik Tekstil Kawasan Industri Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat 4 Januari 2019. Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) pada tahun 2019 mencapai 15 miliar dollar AS atau naik 11 persen dibandingkan target pada tahun 2018. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

    Pekerja menyelesaikan produksi kain sarung di Pabrik Tekstil Kawasan Industri Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat 4 Januari 2019. Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) pada tahun 2019 mencapai 15 miliar dollar AS atau naik 11 persen dibandingkan target pada tahun 2018. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

    TEMPO.CO, Jakarta - Kenaikan upah pekerja yang menjadi yang turut menopang pertumbuhan ekonomi Jawa Barat belakangan ini ternyata disikapi sebaliknya oleh  industri tekstil dan garmen. Sejumlah investor pun memilih hengkang ke daerah lain yang ongkos produksinya lebih murah.

    Baca: Asosiasi Usulkan Pembuatan Peta Jalan Industri Tekstil

    Berdasarkan data Apindo dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada periode 2015-2018, terdapat 21 perusahaan yang melakukan relokasi ke provinsi lain yang upah pekerjanya lebih rendah, seperti Jawa Tengah. Sementara itu 143 perusahaan  lainnya memilih tutup. Dari 21 perusahaan yang melakukan relokasi, jenis industri utamanya adalah garmen (48 persen) dan tekstil (14 persen).

    Relokasi yang dilakukan perusahaan tekstil dan garmen terbanyak berasal dari Kabupaten Karawang. Adapun Upah Minimum Kabupaten (UMK) 2019 di Karawang tercatat  mencapai Rp 4,23juta, atau tertinggi di Jabar.

    "Selain faktor upah, juga ada persoalan persaingan di pasar global. Negara seperti Cina dan Vietnam menjadi tujuan mereka," kataKepala Grup Advisory & Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Pribadi Santoso, dalam diskusi dengan media di Bandung, Sabtu 18 Mei 2019.

    Dia mencontohkan ada satu perusahaan yang memilih hengkang dari Jawa Barat untuk pindah ke Vietnam karena ongkos upah pekerja yang lebih murah dan memiliki produktivitas 48 jam kerja sepekan, atau di atas rata-rata Indonesia yang 40 jam kerja.

    Baca juga: Mendag: Pertumbuhan Industri Tekstil Indonesia Luar Biasa

    Namun, Pribadi optimistis pemerintah daerah Jabar telah menyiapkan sejumlah kebijakan untuk menyelesaikan persoalan UMK dan kinerja manufaktur yang melemah tersebut.

    Menurut Pribadi, kenaikan UMK (Upah Minimum Kabupaten/Kota) yang sebesar 8,03 persen menopang ekonomi Jawa Barat sehingga mampu tumbuh sebesar 5,43 persen pada kuartal I/2019. Pertumbuhan ekonomi Jabar itu lebih tinggi dibandingkan dengan ekonomi nasional yang 5,07 persen.
     
    BISNIS 

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sulli dan Artis SM Entertaintment yang juga Tewas Bunuh Diri

    Sulli, yang bernama asli Choi Jin-ri ditemukan tewas oleh managernya pada 14 Oktober 2019. Ada bintang SM lainnya yang juga meninggal bunuh diri.