Tiket Pesawat Mahal, Warga Minang Pulang Basamo Lewat Jalur Darat

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para penumpang dan antrean kendaraan roda empat di Pelabuhan Merak, Banten, pada mudik Lebaran 2018, Rabu dinihari, 13 Juni 2018. Sebanyak 58 kapal disiapkan untuk berlayar di enam dermaga Pelabuhan Merak untuk mengantisipasi lonjakan penumpang, yang diprediksi terjadi pada Rabu pagi ini. Tempo/Amston Probel

    Para penumpang dan antrean kendaraan roda empat di Pelabuhan Merak, Banten, pada mudik Lebaran 2018, Rabu dinihari, 13 Juni 2018. Sebanyak 58 kapal disiapkan untuk berlayar di enam dermaga Pelabuhan Merak untuk mengantisipasi lonjakan penumpang, yang diprediksi terjadi pada Rabu pagi ini. Tempo/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Empat organisasi perantau Minang telah menyatakan akan pulang basamo atau mudik bersama lewat jalur darat menggunakan bus dan ribuan kendaraan pribadi pada Lebaran 2019 ini.

    Baca: Langkah Pemerintah Siapkan Mudik Jalur Darat

    "Sekarang baru empat, menjelang libur Lebaran akan makin banyak. Kami terus jalin komunikasi dengan organisasi perantau seluruh Indonesia," kata Kepala Biro Kerjasama Pembangunan dan Rantau Sumbar Luhur Budianda di Padang, Jumat.

    Empat organisasi itu, katanya, masing-masing Sulik Air Sepakat (SAS), Ikatan Keluarga Kamang Barat, Nagari Koto Aur Malintang Padang Pariaman dan Ikatan Keluarga Kamang Saiyo.

    Luhur memprediksi jumlah perantau yang pulang basamo lewat jalur darat tahun ini akan meningkat cukup signifikan yang dipengaruhi oleh mahalnya harga tiket pesawat.

    Khusus SAS saja, kata dia, sudah melaporkan akan pulang basamo dengan 1.000 unit mobil. Belum lagi organisasi lain dan yang pulang secara pribadi.

    Hal itu, ujarnya, merupakan peluang ekonomi sekaligus juga tantangan berat bagi masyarakat dan pemerintah daerah di Sumbar, tergantung bagaimana mengelola dan kesiapan di daerah.

    Ia meyakini bahwa perekonomian masyarakat sepanjang jalan lintas Sumatera dari Dharmasraya, Sijunjung, Sawahlunto, Solok, Padangpanjang, Tanah Datar akan bergerak, jika bisa memanfaatkan momentum itu dengan baik.

    Pedagang kuliner diprediksi paling diuntungkan meski sebagian besar hanya untuk sahur, berbuka dan istirahat malam, katanya.

    Tempat peristirahatan atau rest area akan menjadi kebutuhan mutlak bagi rombongan perantau dan menjadi titik interaksi bagi sektor perdagangan. Selain itu, katanya, daerah tujuan wisata yang berada dekat di pinggir jalan lintas juga bisa menjadi pilihan rombongan perantau untuk berhenti melepas penat sejenak.

    Namun jika pengelolaan tidak baik dan memunculkan banyak "pasar tumpah" yang mengakibatkan macet berjam-jam, ditambah lagi pengaturan lalu lintas tidak maksimal, keamanan serta kebersihan tidak terjaga, mudik bersama bisa dirasakan bagai "neraka" bagi perantau.

    "Hal ini malah bisa menjadi faktor yang membuat perantau nantinya malas untuk pulang kampung, karena waktu banyak habis di jalan karena macet," kata Luhur.

    Menurut dia, hal itu akan sangat merugikan karena potensi yang dibawa perantau pulang basamo itu sangat besar, yakni silaturahim, "transfer" pengalaman hingga perputaran uang yang mencapai triliunan rupiah. "Mari kita siapkan semua dengan baik agar pulang basamo terus menjadi tradisi yang menyenangkan di Sumbar," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.