BI Sebut Rp 11 T Dana Asing Kabur dari Pasar Saham dan SBN

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (kedua kiri) berdiskusi dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani (kedua kanan), Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo (kiri) dan Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad ketika melakukan dialog dengan pelaku pasar modal di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 4 Juli 2017. Kunjungan kerja tersebut untuk meninjau pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) secara langsung serta melakukan dialog dengan pelaku pasar modal. ANTARA FOTO

    Presiden Joko Widodo (kedua kiri) berdiskusi dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani (kedua kanan), Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo (kiri) dan Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad ketika melakukan dialog dengan pelaku pasar modal di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 4 Juli 2017. Kunjungan kerja tersebut untuk meninjau pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) secara langsung serta melakukan dialog dengan pelaku pasar modal. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Aliran hot money yang kabur dari pasar saham dan surat berharga negara mencapai Rp 11,3 triliun dalam empat hari terakhir hingga 16 Mei 2019. Aliran dana keluar tersebut terdiri dari Rp 7,6 triliun nett sell di pasar SBN dan Rp 4,1 triliun di pasar saham.

    Baca: Terdongkrak Sektor Infrastruktur, IHSG Pagi Ini Menghijau

    Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menuturkan dana yang keluar dari pasar keuangan tersebut merupakan investasi dari investor jangka pendek.

    "Dalam dua minggu ini keluar karena merespons ketidakpastian pasar keuangan di global dan tentu saja, itu juga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah," ujar Perry, Jumat, 17 Mei 2019. Di pasar SBN, dampak outflow mendongkrak imbal hasil surat utang bertenor 10 tahun ke level 8,02 persen.

    Perry menilai perkembangan pasar saham dan SBN merupakan dampak ketidakpastian pasar keuangan global yang terus meningkat terutama karena ketegangan perdagangan antara Amerika dengan China.

    Alhasil, kondisi ini menimbulkan pergeseran modal yang semula masuk ke emerging market termasuk Indonesia, kembali terbang ke negara maju. "Kami harapkan nanti pada saat G20 Leaders Meeting di Osaka pada 22 Juni, semoga terjadi kesepakatan antara AS dan Tiongkok," ujar Perry. Dengan begitu, masalah perang dagang dapat diselesaikan segera.

    Di tengah tekanan ini, Perry menegaskan BI selalu berada di pasar untuk melakukan langkah stabilisasi nilai tukar rupiah dengan intervensi ganda, baik melalui pasar valas di spot maupun DNDF.

    BI juga melakukan pembelian SBN dari pasar sekunder dengan tetap menjaga mekanisme pasar. "Itu yang terus kita lakukan sehingga kita juga selain memasok di valasnya juga membeli SBN dari pasar sekunder," ujar Perry.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perolehan Kursi DPR Pemilu 2019, Golkar dan Gerinda di Bawah PDIP

    Meski rekapitulasi perolehan suara Golkar di Pileg DPR 2019 di urutan ketiga setelah PDIP dan Gerindra, namun perolehan kursi Golkar di atas Gerindra.