Perang Dagang, Indonesia Bisa Rebut Pasar Tekstil Cina di AS

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja menyelesaikan produksi kain sarung di Pabrik Tekstil Kawasan Industri Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat 4 Januari 2019. Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) pada tahun 2019 mencapai 15 miliar dollar AS atau naik 11 persen dibandingkan target pada tahun 2018. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

    Pekerja menyelesaikan produksi kain sarung di Pabrik Tekstil Kawasan Industri Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat 4 Januari 2019. Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) pada tahun 2019 mencapai 15 miliar dollar AS atau naik 11 persen dibandingkan target pada tahun 2018. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

    TEMPO.CO, Jakarta – Indonesia berpeluang mengambil-alih pasar ekspor Cina di Amerika Serikat setelah kedua negara terlibat perang dagang. Ketua Umum Bidang Pengembangan Kawasan Ekonomi Kamar Dagang Indonesia atau Kadin, Sanny Iskandar, mengatakan produk tekstil bisa menjadi unggulan ekspor Indonesia ke Amerika Serikat menggantikan Cina.

    Baca: Rupiah Bakal Makin Loyo Terimbas Sentimen Perang Dagang AS-Cina

    Selama ini, Indonesia selalu bersaing dengan Cina untuk memasok barang-barang kebutuhan tekstil dan garmen ke Negeri Abang Sam. Sanny meyakini pasokan produk ekspor Negeri Tirai Bambu ke Amerika akan melambat pasca-negara Adikuasa itu memberlakukan bea masuk 25 persen atau senilai Rp 200 miliar untuk barang-barang Cina.

    “Akhirnya kita punya peluang lebih banyak untuk mengekspor barang-barang ke Amerika. Apalagi tekstil, itu kan produk unggulan kita yang seharusnya tak kalah dengan Cina,” ujar Sanny saat dihubungi Tempo pada Kamis, 16 Mei 2019.

    Sanny mengatakan, meski memiliki peluang besar, Indonesia tak bisa serta-merta memasarkan produknya secara gelondongan (bulk).  Menurut dia, perlu ada perbaikan dari sisi kualitas. Produsen juga perlu membaca semua syarat atau kebutuhan negara tujuan ekspor.

    Menurut Sanny, Indonesia perlu menumbuhkan produsen-produsen tekstil setara Sritex yang telah diakui dunia. Sritex atau PT Sri Rejeki Isman Tbk merupakan produsen tekstil dan garmen yang berhasil memasarkan produk-produknya ke pasar mancanegara.

    Pada akhir 2018, Sritex berhasil membukukan penjualan US$ 1,03 miliar. Nilai pendapatan perusahaan berhasil tumbuh mencapai 36,1 persen dibandingkan pendapatan pada 2017. Sritex menjadi salah satu pemasok kain di Amerika Serikat dan pesaing produsen tekstil di Cina.

    Baca: Perang Dagang AS-Cina Berlanjut, Ekspor RI Kian Tertekan

    “Sritex selama ini bisa menjadi pemasok kain untuk angkatan bersenjata di Amerika, itu kan hebat. Kita perlu Sritex-Sritex yang lain untuk meningkatkan daya saing industri,” ucap Sanny.

    Peningkatan daya saing industri penting dilakukan karena Indonesia memiliki pesaing ketat. Negara-negara eksportir lain yang menjadi pemasok besar bagi barang-barang kebutuhan negara Adikuasa, termasuk tekstil, adalah Vietnam,  Thailand, dan Banglades.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.