Bank Mandiri Incar Proyek Kilang Minyak Pertamina

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jajaran direksi Bank Mandiri saat mengelar konferensi pers paparan kinerja pada triwulan I 2019. Hingga triwulan I emiten dengan kode BMRI ini mampu mencatatkan laba sebesar Rp 7,2 triliun. Tempo/Dias Prasongko

    Jajaran direksi Bank Mandiri saat mengelar konferensi pers paparan kinerja pada triwulan I 2019. Hingga triwulan I emiten dengan kode BMRI ini mampu mencatatkan laba sebesar Rp 7,2 triliun. Tempo/Dias Prasongko

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. berupaya menggenjot penyaluran kredit korporasnyai lewat skema sindikasi khususnya untuk segmen infrastruktur. Bank Mandiri pun mengincar pembiayaan pembangunan kilang minyak Pertamina.

    Baca juga: Bank Mandiri Naikkan Suku Bunga Deposito Special Rate

    Direktur Corporate Banking Bank Mandiri Royke Tumilaar menyatakan bahwa bank pelat merah tersebut mengincar sejumlah proyek termasuk kilang minyak Pertamina. Proyek tersebut diperkirakan membutuhkan dana hampir Rp 40 triliun. Adapun porsi minimum yang akan diambil Bank Mandiri berkisar 10—15 persen dari tiap nilai proyek.  

    Selain itu, Bank Mandiri juga memiliki pipeline sindikasi untuk pembiayaan belanja modal sejumlah perusahaan pelat merah, salah satunya Telkomsel. "Saya kurang ingat pasti angkanya tapi mungkin butuh setidaknya lebih dari Rp10 triliun, Mandiri mungkin ikut Rp2 triliun. Penandatanganan kerja samanya dalam waktu dekat," ujarnya seperti dikutip Bisnis.com, Selasa 14 Mei 2019.

    Kredit sindikasi terbaru yang diberikan Bank Mandiri yakni ke PT PLN (Persero). Pada pekan terakhir April lalu, emiten bersandi BMRI ini bersama enam lembaga keuangan lain melakukan penandatangan perjanjian pendanaan investasi senilai total Rp16,75 triliun. Dana sindikasi bertenor 10 tahun tersebut akan digunakan PLN untuk modal membangun gardu induk dan transmisi dalam mendukung program 35 GW. 

    "(Porsi kredit) Bank Mandiri lumayan besar, sekitar 20 persen. Kreditnya belum ditarik untuk capex tahun ini," kata Royke.  

    Selain itu, perseroan juga akan membuka peluang untuk ikut membiayai proyek- proyek infrastruktur seperti jalan tol, termasuk tol Sumatera yang dikerjakan oleh badan usaha pelat merah. Adapun untuk proyek bandara dan pelabuhan, kata Royke, mayoritas sudah selesai.  

    Gencarnya pembangunan proyek infrastruktur pemerintah mengerek kredit sindikasi BMRI hingga tumbuh dua digit pada kuartal I/2019.  Berdasarkan data laporan keuangan per Maret 2019, kredit sindikasi yang disalurkan perseroan tumbuh 37,6 persen year on year (YoY). Hingga Maret 2019, Bank Mandiri telah menyalurkan kredit sindikasi sebesar Rp66,7 triliun, tumbuh 37,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

    Baca: Triwulan I, Kredit Infrastruktur Bank Mandiri Tembus Rp 177,8 T

    Rohan Hafas Corporate Secretary Bank Mandiri menyatakan kredit sindikasi tersebut sebagian besar disalurkan untuk pembiayaan proyek-proyek infrastruktur yang membutuhkan biaya yang relatif besar dengan masa peminjaman yang cukup panjang. “Dari nilai tersebut, hampir separuhnya atau sekitar Rp31,6 triliun disalurkan pada proyek-proyek BUMN,” ujarnya.

    Sementara itu, total kredit yang disalurkan emiten bersandi BMRI tersebut untuk sektor infrastruktur mencapai Rp177,8 triliun hingga Maret 2019. Dilihat dari subsektornya, kredit tersebut disalurkan kepada tujuh bidang utama yakni transportasi (Rp38,9 triliun), tenaga listrik (Rp35,6 triliun), migas & energi terbarukan (Rp27,4 triliun), konstruksi (Rp20,5 triliun), Jalan tol (Rp17,7 triliun), telematika (Rp16,8 triliun), perumahan rakyat & fasilitas kota (Rp9,6 triliun), dan infrastruktur lainnya (Rp11,3 triliun).  

     
    BISNIS

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.