Neraca Perdagangan April Diprediksi Bakal Defisit

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani didampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat akan melepas mobil yang akan diekspor setelah peluncuran aturan penyederhanaan ekspor kendaraan utuh di Dermaga PT Indonesia Kendaraan Terminal, Jakarta, Selasa, 12 Februari 2019. Dengan adanya kemudahan yang diberikan pemerintah, diharapkan defisit neraca perdagangan bisa diatasi dengan menggenjot ekspor. TEMPO/Tony Hartawan

    Menteri Keuangan Sri Mulyani didampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat akan melepas mobil yang akan diekspor setelah peluncuran aturan penyederhanaan ekspor kendaraan utuh di Dermaga PT Indonesia Kendaraan Terminal, Jakarta, Selasa, 12 Februari 2019. Dengan adanya kemudahan yang diberikan pemerintah, diharapkan defisit neraca perdagangan bisa diatasi dengan menggenjot ekspor. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom DBS Group Research, Masyita Cristallin, memprediksi neraca perdagangan bulan April 2019 bakal defisit. Hal ini sejalan dengan masih lemahnya tren ekspor maupun ekspor pada bulan ini.

    Baca juga: Gubernur BI: Defisit Transaksi Berjalan Mengarah ke 2,5 Persen

    "Sejalan dengan tren regional, ekspor dan impor cenderung tetap lemah. Neraca perdagangan mungkin kembali ke zona defisit bulan ini setelah mengalami surplus selama dua bulan berturut-turut," kata Masyita dalam laporan riset DBS Group Research yang diterima Tempo, Selasa 14 Mei 2019.

    Masyita mengatakan defisit transaksi berjalan yang menurun dari -3,6 persen dari PDB pada triwulan ke-4 2018 menjadi -2,6 persen pada triwulan pertama terutama didorong oleh peningkatan dalam neraca perdagangan barang. Sementara neraca perdagangan jasa dan neraca pendapatan sedikit memburuk.

    Dia juga menjelaskan, penurunan defisit ini juga sejalan dengan pertumbuhan PDB moderat pada triwulan pertama yang sebesar 5,1 persen, dibandingkan dengan 5,2 persen pada triwulan ke-4 2018. Namun, defisit transaksi berjalan diprediksi melebar pada triwulan ke-2 2019 dan seterusnya.

    "Hal ini karena pembangunan infrastruktur akan mulai meningkat setelah pemilihan umum, di samping kenaikan harga minyak dan peningkatan perang dagang AS-Cina, yang akan berdampak negatif pada perdagangan Asia," kata Masyita.

    Hari ini, Badan Pusat Statistik atau BPS bakal mengelar konferensi pers terkait kondisi nereca dagang sepanjang bulan April. Selain itu, BPS juga bakal merilis mengenai kondisi perkembangan upah pekerja atau buruh.

    Baca: Jokowi Jengkel Perizinan Ruwet, Bikin Investasi Tak Bisa Menetas

    Adapun pada Maret BPS mencatat neraca dagang mengalami surplus sebesar US$ 540 juta. Nilai ekspor tercatat sebesar US$ 14,03 miliar, sedangkan nilai impor sebesar US$ 13,49 miliar. Kemudian, secara kumulatif dari Januari hingga Maret, ekspor dan impor tercatat masing-masing senilai US$ 40,51 miliar dan US$ 40,7 miliar. Sehingga, defisit neraca perdagangan kumulatif tercatat sebesar US$ 190 juta.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.