Tarif Batas Atas Tiket Pesawat Diturunkan, INACA Keberatan

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Harga sejumlah tiket pesawat terpampang dalam BCA Travel Fair 2019 di Jakarta, Jumat, 15 Februari 2019. Bagi pemegang kartu kredit BCA akan menerima cashback hingga Rp 1,5 juta dan 3x KrisFlyer miles. TEMPO/Tony Hartawan

    Harga sejumlah tiket pesawat terpampang dalam BCA Travel Fair 2019 di Jakarta, Jumat, 15 Februari 2019. Bagi pemegang kartu kredit BCA akan menerima cashback hingga Rp 1,5 juta dan 3x KrisFlyer miles. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah resmi menetapkan tarif batas atas atau TBA tiket pesawat turun dengan kisaran antara 12 persen sampai 16 persen. Atas kebijakan itu, Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia atau INACA menyatakan sangat keberatan.

    Baca: Pemerintah Turunkan Tarif Batas Atas Tiket Pesawat 12 - 16 Persen

    Ketua Bidang Penerbangan Berjadwal INACA Bayu Sutanto berpendapat, penurunan TBA untuk rute penerbangan domestik kelas ekonomi tersebut akan berdampak bagi kinerja keuangan maskapai. Terlebih, saat ini kondisi sebagian besar keuangan maskapai nasional belum bisa dibilang bagus.

    "Apalagi kurs rupiah sudah melemah lagi, nantinya akan berdampak terhadap harga avtur yang semakin tinggi. Tentu kami akan ajukan peninjauan ulang," kata Bayu, Senin, 13 Mei 2019. Ia lalu mendesak pemerintah agar mengkaji ulang kebijakan penurunan TBA rata-rata sebesar 14 persen tersebut.

    Bayu menjelaskan, kurs dolar AS terus mengalami penguatan sejak pertengahan bulan lalu. Saat ini, kurs dolar AS mencapai Rp 14.362 atau meningkat 2 persen dari Rp14.067 dibandingkan dengan tanggal yang sama bulan lalu.

    Pada sisi lain, harga avtur yang dimonitor oleh Asosiasi Transportasi Udara Internasional (International Air Transport Association atau IATA) per 3 Mei 2019 bergerak naik hingga 3,1 persen dibandingkan dengan bulan lalu. Harga avtur itu lebih rendah 4 persen secara year-on-year (yoy).

    Harga avtur mencapai US$ 85,31 per barel pada 3 Mei 2019. Adapun, kontribusi belanja bahan bakar terhadap struktur biaya operasional maskapai mencapai 30-40 persen.

    Pihaknya mengaku sudah menyampaikan keberatan kepada pemerintah khususnya Kementerian Perhubungan terkait dengan rencana tersebut. Akan tetapi, sesuai regulasi, pemerintah tetap memiliki wewenang penuh untuk mengatur batas tarif. 

    Berdasarkan Pasal 23 Peraturan Menteri Perhubungan No. 20 Tahun 2019, Direktur Jenderal Perhubungan Udara melakukan evaluasi terhadap besaran tarif yang telah ditetapkan dengan ketentuan dilaksanakan secara berkala setiap tiga bulan dan atau sewaktu-waktu dalam hal terjadi perubahan signifikan yang mempengaruhi kelangsungan kegiatan maskapai.

    Perubahan signifikan yang dimaksud, merupakan perubahan yang menyebabkan terjadinya kenaikan total biaya operasi pesawat hingga paling sedikit 10 persen. Penyebabnya adalah harga avtur, nilai tukar rupiah, dan harga komponen biaya lainnya. Pada Pasal 24 disebutkan hasil evaluasi Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dalam Pasal 23 tersebut merupakan dasar perubahan TBA yang telah ditetapkan.

    Baca: Cara Lion Air Hadapi Penumpang Sepi Akibat Tiket Pesawat Mahal

    Sementara itu, berdasarkan Pasal 127 ayat 2 Undang-Undang No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, yakni TBA penumpang kelas ekonomi angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri ditetapkan oleh Menteri Perhubungan. Tarif tiket pesawat itu ditentukan dengan mempertimbangkan aspek perlindungan konsumen dan badan usaha angkutan udara niaga berjadwal dari persaingan tidak sehat.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.