Listrik Sering Mati, Edy Rahmayadi: PLN Harus Seperti Suami Siaga

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, saat menggunakan hak pilihnya di TPS 46, Kelurahan Pangkalan Mahsyur, Kecamatan Medan Johor, Medan, Sumatera Utara pada Rabu, 17 April 2019 / Foto : IIL ASKAR MONDZA

    Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, saat menggunakan hak pilihnya di TPS 46, Kelurahan Pangkalan Mahsyur, Kecamatan Medan Johor, Medan, Sumatera Utara pada Rabu, 17 April 2019 / Foto : IIL ASKAR MONDZA

    TEMPO.CO, Medan - Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi, angkat bicara mengenai permasalahan padamnya listrik yang terjadi di Kota Medan dan sekitarnya. Ia meminta agar PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) berupaya semaksimal mungkin agar pemadaman listrik tak terulang.

    Baca: PLN Sumut Jelaskan Penyebab Listrik Padam di Medan

    Hal ini disampaikan Edy mengingat permasalahan listrik di Sumatera Utara setelah terjadi terjadi, khususnya di awal bulan Ramadan ini. “Saya minta tolong kepada saudara-saudara sekalian, jangan sampai terulang lagi. PLN harus siaga 24 jam seperti suami siaga (Siap Antar Jaga) yang istrinya mau melahirkan,” kata Edy Rahmayadi, Senin, 13 Mei 2019.

    Pernyataan itu dilontarkan Edy  saat bertemu dengan jajaran PT. PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Sumatera Utara dan PT. Pertamina Gas Sumatera Utara, Ramses Napitupulu di Medan. Ia juga meminta kepada pihak terkait untuk bersiaga 24 jam dan jika ditemui permasalahan mengenai ketenagalistrikan serta langkah antisipasi yang dilakukan.

    Apalagi di bulan Ramadan ini, Edy menyebutkan masyarakat muslim yang ingin beribadah sangat terganggu dengan pemadaman listrik yang terjadi. Mantan Ketua PSSI tersebut juga tak heran jika banyak masyarakat yang marah ketika terjadi pemadaman. “Ketika listrik padam tentu masyarakat marah. Masalah ini sudah ada sejak saya kecil, sekarang saya sudah jadi Gubernur masih juga terjadi lagi."

    Menanggapi hal itu, Senior Manager Distribusi PLN UIW Sumatera Utara, Taufik Hidayat, menjelaskan seringnya listrik padam belakangan ini. Untuk pemadaman listrik yang pertama, Kamis menjelang sahur pada 9 Mei 2019 karena rusaknya CT (Current Transfermer) di beberapa PLTU. "Itu segera kita ganti, dan dalam waktu sekitar 30 menit bisa kembali beroperasi dan listrik kembali normal,” ucapnya.

    Adapun pemadaman listrik kedua pada Kamis malam di hari yang sama, Taufik beralasan terjadi penurunan suplai gas ke PLN yang membuat beberapa pembangkit listrik tidak bekerja. “Tapi kita juga terus berupaya untuk memperbaikinya dengan berkoordinasi bersama Pertamina Gas."

    Khusus mengenai penurunan suplai gas, terjadi akibat tingginya penggunaan listrik masyarakat di Sumatera Utara dan Aceh selama Bulan Ramadan. Terlebih dengan jarak sumber gas yang berasal dari Arun Natural Gas Liquefaction di Aceh Utara, membuat usaha normalisasi memakan waktu.

    Asisten Manajer Operasi PT. Pertamina Gas Sumatera Utara Ramses Napitupulu menambahkan, pihaknya telah membuka aliran gas dari Arun untuk menambahkan tekanan gas ke PLN. "Arun cukup jauh dari Belawan, sehingga untuk meningkatkan tekanan ke PLN tidak bisa segera, butuh waktu. Tetapi masalah tidak ada di Pertamina,” katanya. 

    Sebelumya diberitakan pemadaman listrik beberapa kali terjadi di Medan dan sekitarnya. Bahkan pemadaman listrik yang terjadi selama Bulan ramadhan, membuat masyarakat geram. Terbukti dari unggahan PLN UIW Sumatera Utara di akun instagram @plnsumut yang dicecar komentar-komentar negatif dari warganet.

    Padahal dalam unggahan tersebut, PLN menjamin pasokan listrik selama 24 jam non-stop selama Ramadan. “Paling besok klarifikasi ada masalah pembangkit yg rusak... Kami dari PLN meminta maaf...," sebut akun @nazlan_habibi.

    Baca: Kendaraan Listrik, Menteri Jonan Klaim Listrik Cukup

    Begitupun dengan akun @nandaprwnt03, "Kalau tadi hujan badai angin kencang kami bisa memahami, ini rumput pun tidak bergoyang bisanya mati lampu astagfirullah," ujarnya.

    Simak berita lainnya terkait listrik di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pro Kontra Kemendikbud Menerapkan Zonasi Sekolah pada PPDB 2019

    Zonasi sekolah di PPDB yang diterapkan Kemendikbud memicu pro dan kontra. Banyak orang tua menganggap sistem ini tak adil dan merugikan calon siswa