Pantau Pasokan BBM Mudik Lebaran, Jonan: 1 SPBU di Tiap 100 Km

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas bermotor pengantar BBM dari KiosK Pertamax SPBU Muri bersiap untuk berkeliling jalur pantura di Tegal, Jawa Tengah, Rabu (30/5/2018). Pertamina menyiagakan 60 titik Kios BBM Kemasan atau KiosK Pertamax sebagai salah satu alternatif bagi pemudik untuk mendapatkan BBM selain di SPBU. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    Petugas bermotor pengantar BBM dari KiosK Pertamax SPBU Muri bersiap untuk berkeliling jalur pantura di Tegal, Jawa Tengah, Rabu (30/5/2018). Pertamina menyiagakan 60 titik Kios BBM Kemasan atau KiosK Pertamax sebagai salah satu alternatif bagi pemudik untuk mendapatkan BBM selain di SPBU. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan didampingi Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati memantau langsung pasokan Bahan Bakar Minyak atau BBM untuk mendukung arus mudik Idul Fitri Tahun 2019.

    Baca: Lebaran 2019, Konsumsi BBM Bakal Melonjak 15 Persen

    Pemantauan tersebut dilakukan kemarin di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang berada di rute Surabaya - Semarang, yaitu SPBU 575B Ngawi dan SPBU 519B Solo. Kedua SPBU tersebut sudah beroperasi dan dapat melayani kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) masyarakat yang akan bepergian melintasi jalur tol.

    Jonan mengungkapkan SPBU yang berada di ruas tol Surabaya - Semarang sudah baik dan dapat memenuhi kebutuhan bahan bakar pemudik. "Berdasarkan pantauan, sejauh ini sudah maksimal. Kalau tadi dari Surabaya sampai ke Ngawi sekitar 160 kilo meter (km). Kurang lebih 100 km, 1 SPBU itu cukup," katanya, dikutip dari keterangan resmi, Sabtu, 11 Mei 2019.

    Jonan dalam kesempatan itu mengimbau agar para pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi roda empat mengisi BBM terlebih dahulu sebelum memasuki jalur bebas hambatan. Hal tersebut untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi saat berada di jalan tol. Misalnya, jika terjadi kemacetan hingga kehabisan bahan bakar.

    "Untuk masyarakat yang mudik menggunakan jalan tol, sebaiknya waktu berangkat diisi. Kalau tidak mau isi penuh, minimal diisi 3/4. Begitu juga dengan pulangnya," kata Jonan.

    Secara keseluruhan, di sepanjang jalan tol dari Jakarta hingga Surabaya, disiapkan 54 SPBU besar termasuk 10 SPBU baru dan 16 SPBU sementara. SPBU sementara ini hanya beroperasi saat puncak mudik dan puncak arus balik, yaitu H-15 hingga H+15.

    Untuk mengantisipasi lonjakan pemudik di jalan tol yang telah banyak tersambung, Nicke Widyawati menjelaskan bahwa PT Pertamina sudah memprediksi hal ini. Selain membangun SPBU baru dan SPBU sementara, juga disiapkan fasilitas pendukung lainnya seperti 200 motorist (motor pengantar BBM), mobile storage atau kantong BBM, dan kiosK Pertamax.

    "Kita prediksi kenaikannya dari tahun lalu. Untuk itu kita menambah SPBU, baik yang permanen maupun yang sementara, akan lebih banyak dibanding waktu normal. Tadi Pak Menteri sudah sampaikan sekitar setiap 100 km kita siapkan SPBU," ujar Nicke.

    Untuk jalan tol yang berada di wilayah Jawa Tengah disiapkan 6 SPBU, 15 Kiosk Pertamax, 6 Serambi Pertamax, 45 SPBU Kantong dan 60 motorist. "Walaupun kita prediksi tidak akan terjadi kemacetan di jalan tol, kita tetap akan siapkan motorist-motorist ini seperti tahun lalu," ucap Nicke.

    Baca: Pertamina Jamin Ketersediaan BBM dan Elpiji Selama Ramadan

    Pertamina menjamin bahwa 2 minggu sebelum Lebaran Idul Fitri, seluruh SPBU telah beroperasi penuh, dengan kapasitas rata-rata tanki 60 kilo liter (kl). Sebaliknya, untuk ruas tol Jawa Timur dibuka 5 SPBU besar dengan rata rata jumlah nozzle 27 hingga 37 buah. Disamping itu akan dioperasikan juga 7 SPBU sementara atau mobile dispenser yang dilengkapi nozzle. SPBU ini bisa menampung 24 ribu liter hingga 32 ribu liter BBM.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pro Kontra Kemendikbud Menerapkan Zonasi Sekolah pada PPDB 2019

    Zonasi sekolah di PPDB yang diterapkan Kemendikbud memicu pro dan kontra. Banyak orang tua menganggap sistem ini tak adil dan merugikan calon siswa