Pemerintah Sebut Duopoli Sebabkan Tiket Pesawat Mahal

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung tengah berburu tiket pada Astindo Travel Fair di Jakarta Convention Center, Jumat, 22 Februari 2019. Selain tiket pesawat murah, berbagai paket tour juga ditawarkan. TEMPO/Tony Hartawan

    Pengunjung tengah berburu tiket pada Astindo Travel Fair di Jakarta Convention Center, Jumat, 22 Februari 2019. Selain tiket pesawat murah, berbagai paket tour juga ditawarkan. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Menteri Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan bisnis maskapai saat ini dikuasai oleh dua grup besar, yakni Garuda Indonesia dan Lion Group. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya duopoli yang berimbas pada seragamnya harga penjualan tiket pesawat.

    Baca juga: Cara Budi Karya Sumadi Hibur Diri Hadapi Masalah Tiket Pesawat

    "Kalau tinggal dua grup berarti kan duopoli. Kalau yang satu tinggikan harga, satu lagi mengikuti," ujar Susiwijono saat ditemui di kantornya, Jumat petang, 10 Mei 2019.

    Susiwijono mengakui, selama ini, tarif tiket pesawat dijual dengan harga murah karena adanya perang harga. Konflik tarif terjadi ketika pasar maskapai di Indonesia masih dikuasai tiga grup, yakni Sriwijaya Air, Garuda Indonesia, dan Lion Group. Saat itu, persaingan cukup ketat sehingga maskapai berlomba menawarkan harga di level batas bawah dengan nilai yang tidak realistis.

    Tatkala Sriwijaya Air diakuisisi Garuda Indonesia, tinggal dua grup yang bermain di pasar maskapai Indonesia. Sewaktu salah satu grup menaikkan harga secara signifikan hingga menyentuh batas atas, maskapai lain mengikuti. Dalam situasi ini, masyarakat merasa tak punya pilihan.

    "Sekarang begitu harga tiba-tiba tinggi, masyarakatnya yang belum siap untuk menyesuaikannya," ucap Susiwijono.

    Susiwijono mengatakan pemerintah perlu menjalankan fungsi kontrolnya terhadap struktur market bisnis maskapai dengan kondisi demikian. Kontrol dilakukan agar maskapai tidak lepas kendali dalam penetapan tarif.

    "Ini bukan intervensi, tapi fungsi kontrol. Kita enggak bisa lepas kalau struktur marketnya demikian," tuturnya.

    Saat ini, pemerintah tengah merembuk kebijakan untuk mengatasi keluhan masyarakat terhadap kondisi tarif tiket pesawat. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi belakangan melempar wacana akan menurunkan tarif batas atas agar berdampak pada penurunan harga sehingga terjangkau oleh masyarakat semua lapisan.

    Budi Karya mengatakan pihaknya bakal menyorongkan formulasi anyar soal tarif batas atas kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution pada Senin, 13 Mei 2019. "Nanti Senin akan kami bawa ke Pak Darmin biar beliau yang putuskan," ujar Budi Karya saat ditemui Tempo di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Kamis, 9 Mei.

    Ditemui pada Jumat petang di Kemenko Perekonomian, Darmin tak mengelak ada pertemuan dengan Budi Karya untuk merembuk finalisasi kebijakan tarif tiket pesawat. Rapat itu rencananya dihadiri pula oleh Menteri BUMN Rini Soemarno dan direksi Garuda Indonesia. "Nanti tunggu Senin," ucap Darmin.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    6 Rumor yang Jadi Nyata pada Kelahiran GoTo, Hasil Merger Gojek dan Tokopedia

    Dua tahun setelah kabar angin soal merger Gojek dengan Tokopedia berhembus, akhirnya penggabungan dua perusahaan itu resmi dan lantas melahirkan GoTo.