Setelah Bawang, Kini Harga Cabai Tembus Rp 40.000 per Kg

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hasil pemantauan langsung di lapangan, perkembangan harga aneka cabai secara nasional relatif aman dan stabil, ujar Mardiyah Hayati, Kepala Sub Direktorat (Subdit) Aneka Cabai dan Sayuran Buah Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Senin, 23 Juli 2018. (dok Kementan)

    Hasil pemantauan langsung di lapangan, perkembangan harga aneka cabai secara nasional relatif aman dan stabil, ujar Mardiyah Hayati, Kepala Sub Direktorat (Subdit) Aneka Cabai dan Sayuran Buah Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Senin, 23 Juli 2018. (dok Kementan)

    TEMPO.CO, Jakarta - Harga cabai mulai merangkak naik mengikuti harga bawang yang sudah terlalu mahal di pekan pertama Ramadan. Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri mengatakan, setelah harga bawang putih dan bawang merah masih berada di level yang tinggi, harga cabai merah keriting dan cabai rawit turut merangkak naik.

    Baca: Petani Keluhkan Harga Cabai Jeblok Hingga Rp 2.500 per Kg

    Dia menilai, pada awal periode puasa, kenaikan harga kedua komoditas cabai itu cukup tinggi. “Kami sedang menelusuri penyebab kenaikan harga komoditas cabai ini apa. Ada potensi di proses distribusi yang tidak disiapkan dengan baik sebab kabar terbaru yang kami terima, panen cabai masih aman. Sementara itu, untuk bawang merah memang persoalan distribusi menjadi kendala untuk awal puasa ini,” katanya Rabu, 8 Mei 2019.

    Dia mengatakan, harga normal cabai merah keriting dan cabai rawit hijau biasanya di level Rp 22.000/kg - Rp 25.00/kg. Namun saat ini harga kedua komoditas itu di sejumlah pasar sudah menembus Rp 40.000/kg.

    Menurut Abdullah, pemerintah tidak siap melakukan manajemen distribusi pangan menghadapi kenaikan konsumsi pada awal Ramadan tahun ini. Pasalnya 3 hari sejak awal puasa hingga 2 pekan pertama bulan puasa, permintaan dari konsumen biasanya naik 60 persen.

    Manajer Usaha dan Pengembangan Unit Pasar Besar Pasar Induk Kramat Djati Syarif Hidayatullah mengatakan, salah satu komoditas yang mengkhawatirkan adalah cabai merah keriting. Menurut Syarif, saat ini harga komoditas tersebut di Pasar Induk Kramat Djati sudah menembus Rp 33.000/kg dan mengalami kenaikan secara signifikan selama sepekan terakhir.

    “Untuk cabai merah keriting ini normalnya di pasar induk sekitar Rp 20.000/kg. Namun harga mulai di atas normal ketika sudah di atas Rp 30.000/kg seperti saat ini,” ujarnya.

    Dia menduga salah satu penyebabnya adalah distribusi yang terganggu. Menurut Syarif, tingginya curah hujan di sejumlah sentra produksi cabai merah, seperti di Jawa Tengah, membuat cabai yang dikirimkan mengalami penurunan kualitas.

    Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia Tunov Mondro Atmojo mengatakan, di level petani saat ini harga cabai merah keriting dan cabai hijau masih rendah, yakni Rp 14.000/kg—Rp 15.000/kg. Harga di petani masih di bawah biaya pokok produksi sebesar Rp17.000/kg.

    “Kami cukup heran kenapa di sejumlah pasar besar, terutama di Jakarta, harganya bisa melonjak tajam sebab di tingkat petani saja harganya cukup rendah. Saya melihat, kondisi ini disebabkan oleh kendala distribusi dari petani ke pasar dan konsumen. Pemerintah harus turun tangan ini,” katanya.

    Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Juwari mengatakan, harga bawang merah seharusnya mulai mengalami penurunan pada awal puasa. Pasalnya, sejumlah sentra produksi seperti di kawasan pantai utara Jawa sudah mulai panen.

    “Harapan kami, pemerintah membantu mendistribusikan bawang ke daerah yang mengalami kenaikan harga yang tinggi,” katanya.

    Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga cabai merah mencapai Rp 41.900/kg atau naik dari pekan lalu sebesar Rp 35.350/kg. Sementara itu, harga cabai rawit mencapai Rp 45.450/kg atau naik dari pekan lalu sebesar Rp 41.450/kg.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.