Rupiah Melemah 22 Poin Terimbas Isu Perang Dagang AS - Cina

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas money changer menghitung mata uang dolar. Rupiah semakin tertekan terhadap nilai tukar dolar Amerika Serikat, di level Rp14.060 per Dolar AS. Jakarta, 25 Agustus 2015. TEMPO/Subekti

    Petugas money changer menghitung mata uang dolar. Rupiah semakin tertekan terhadap nilai tukar dolar Amerika Serikat, di level Rp14.060 per Dolar AS. Jakarta, 25 Agustus 2015. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah pada pagi hari ini melemah 22 poin menjadi Rp 14.302 per dolar AS. Penurunan kurs rupiah tersebut bila dibandingkan hari sebelumnya Rp 14.280 per dolar AS.

    Baca: Awal Puasa, Rupiah dan Mata Uang Asia Lainnya Melemah

    Pelemahan rupiah ini dipicu kekhawatiran pelaku pasar terkait potensi kembali memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina. Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih, mengatakan pelaku pasar masih mengkhawatirkan ancaman Presiden AS Donald Trump terhadap Cina.

    "Sentimen pasar masih negatif dalam dua hari pasca Presiden Trump memberikan pernyataan ancaman penerapan tarif atas barang-barang impor Cina senilai US$ 200 miliar mulai minggu depan," ujar Lana, Rabu, 8 Mei 2019.

    Tidak hanya di pasar saham, kekhawatiran terhadap terhentinya kesepakatan juga membuat harga minyak mentah turun. Isu perdagangan ini pun telah membuat ekonomi Cina melambat menjadi 6,4 persen pada kuartal I-2019 dari 6,8 persen pada kuartal I-2018, sedangkan ekonomi AS justru naik menjadi 3,2 persen dari 2,2 persen pada kuartal I-2018.

    Baca: Jokowi Effect Pudar, Rupiah Melemah Jadi 14.078

    Lebih jauh Lana memprediksi rupiah hari ini berpotensi melemah menuju kisaran antara Rp 14.280 per dolar AS hingga Rp 14.300 per dolar AS.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.