Survei BI: Penjualan Eceran Mayoritas Berasal dari Sandang

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang merapikan baju batik dagangannya di toko batik grosir dan eceran Irfan di pasar Tanah Abang, Jakarta, 14 April 2015. Pemerintah melalui kementerian Perdagangan akan melarang impor kain batik ataupun yang menyerupai batik untuk melindungi usaha batik dalam negeri. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Pedagang merapikan baju batik dagangannya di toko batik grosir dan eceran Irfan di pasar Tanah Abang, Jakarta, 14 April 2015. Pemerintah melalui kementerian Perdagangan akan melarang impor kain batik ataupun yang menyerupai batik untuk melindungi usaha batik dalam negeri. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Survei Penjualan Eceran yang dilakukan Bank Indonesia atau BI per Maret 2019 menunjukkan indeks penjualan riil (IPR) tumbuh 10,1 persen year on year. Artinya, indeks tersebut naik dari 9,1 persen (yoy) pada Februari 2019.

    Baca: Survei BI: Pertumbuhan Kredit Bank Akan Menguat di Kuartal II

    "Peningkatan penjualan eceran terutama bersumber dari subkelompok sandang dan kelompok suku cadang dan aksesori," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko, dalam keterangan tertulis, Selasa, 7 Mei 2019.

    Onny mengatakan penjualan eceran diprakirakan tetap tumbuh positif pada April 2019. Hal tersebut diindikasikan oleh IPR April 2019 yang diprakirakan tumbuh 5,7 persen (yoy), meskipun melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya.

    Namun demikian, kata Onny, IPR April 2019 tersebut diprakirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,1 persen (yoy). "Pertumbuhan positif tersebut ditopang oleh penjualan subkelompok Sandang dan kelompok suku cadang dan aksesori."

    Hasil survei juga mengindikasikan tekanan harga di tingkat pedagang eceran dalam tiga bulan mendatang atau pada Juni 2019 meningkat. Hal tersebut tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum atau IEH tiga bulan yang akan datang sebesar 174,6 meningkat dari 153,9 pada bulan sebelumnya. "Hal itu dipengaruhi oleh tekanan inflasi yang cenderung meningkat menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri," ujarnya.

    Sebelumnya, Badan Pusat Statistik atau BPS juga mengumumkan hasil surveinya. Indeks Tendensi Bisnis (ITB) kuartal I/2019 disebut mencapai sebesar 102,10. Artinya, kondisi bisnis secara umum terus tumbuh, walaupun optimisme pelaku bisnis lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya atau kuartal IV/2018 yang sebesar 104,71.

    Kondisi bisnis pada triwulan II/2019 diperkirakan meningkat, dengan optimisme pelaku bisnis yang lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya. Kondisi tersebut tercermin dari angka ITB sebesar 106,44. Peningkatan kondisi bisnis diperkirakan terjadi pada seluruh kategori lapangan usaha kecuali kategori lapangan usaha pertambangan dan penggalian.

    Baca: Survei Bank Indonesia : Optimisme Konsumen Tetap Terjaga

    Indeks Tendensi Konsumen (ITK) kuartal I/2019 sebesar 104,35. Hal ini menunjukkan secara umum konsumen merasakan peningkatan kondisi ekonomi pada kuartal I/2019, namun dengan optimisme yang lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya ara kuartal IV/2018 sebesar 110,54.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.