Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I Ditopang Belanja Pemilu

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto serta Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti di kantor BPS Indonesia, Pasar Baru, Jakarta, 15 Maret 2018. TEMPO/Lani Diana

    Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto serta Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti di kantor BPS Indonesia, Pasar Baru, Jakarta, 15 Maret 2018. TEMPO/Lani Diana

     
    TEMPO.CO, Jakarta - Penyelenggaraan Pemilu menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal I tahun ini yang sebesar 5,07 persen secara tahunan. Angka ini naik tipis dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 5,06 persen.
     
     
    Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan dari sisi pengeluaran pertumbuhan ini banyak ditopang oleh komponen pengeluaran konsumsi lembaga non-profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) yang tumbuh 16,93 persen. "Kita bisa melihat pengaruhnya karena ada kegiatan berbagai pertemuan partai politik, baik kampanye,  pemasangan iklan di media massa, rapat umum partai politik membuat LNPRT tumbuh 16,93 persen," ujar Suhariyanto, di kantornya di Jakarta, Senin 6 Mei 2019.
     
    Tak hanya pengeluaran LNPRT, kontributor terbesar dalam produk domestik bruto (PDB) adalah pertumbuhan tingkat konsumsi pemerintah sebesar 5,21 persen secara tahunan. Pada periode yang sama tahun lalu, konsumsi pemerintah hanya 2,71 persen. "Kenaikan realisasi dipicu dua hal, yaitu naiknya realisasi belanja pemerintah pusat dan kenaikan transfer pemerintah pusat kepada pemerintah daerah," kata Suhariyanto.
     
    BPS mencatat dana bantuan sosial tunai dari pemerintah tumbuh drastis yaitu 106,64 persen yang berpengaruh kepada konsumsi rumah tanga. Adapun kenaikan konsumsi rumah tangga hanya sebesar 5,01 persen.
     
    Menurut Suhariyato, konsumsi rumah tangga tumbuh lebih baik ketimbang periode yang sama pada tahun lalu sebesar 4,94 persen. "Artinya, konsumsi dan daya beli masyarakat masih terjaga, hampir semua berharap pada triwulan kedua meningkat pesat karena ada Ramadan dan Lebaran ," ujar dia. 
      
    Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan rendahnya pertumbuhan ekonomi dibanding kuartal sebelumnya disebabkan oleh pengeluaran masyarakat di akhir tahun lebih tinggi. Ia yakin tingkat konsumsi akan kembali naik pada kuartal selanjutnya karena peningkatan konsumsi Ramadan dan Lebaran. Untuk memperbaiki investasi, Shinta berharap pemerintah bisa menarik investor yang masih cenderung "wait and see" untuk masuk ke Indonesia menjelang Pemilu. 
     
     
    "Untuk mendorong sektor konsumsi pemerintah juga harus memperbaiki sektor hulu agar mampu menopang pertumbuhan permintaan masyarakat sekaligus mengurangi impor," kata Shinta. 
     
    Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan faktor Pemilu memiliki peran yang cukup besar dalam pertumbuhan ekonomi kuartal pertama tahun ini. Hal tersebut terlihat dari kenaikan konsumsi pemerintah dan pengeluaran LNPRT yang cukup signifikan. "Persiapan pemilu turut menggerakkan perekonomian," kata dia.
     
    LARISSA HUDA | HENDARTYO HANGGI 
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ETLE, Berlakunya Sistem Tilang Elektronik Kepada Sepeda Motor

    Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya telah memberlakukan sistem tilang elektronik (ETLE) kepada pengendara sepeda motor.