Industri Pakaian Jadi Catatkan Pertumbuhan Paling Tinggi

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja melakukan kontrol kualitas di industri pembuatan kain, Desa Padamulya, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat 4 Januari 2019. Pemerintah menargetkan ekspor produk TPT tahun 2019 mencapai USD 15 miliar atau naik 11 persen dibanding tahun lalu. TEMPO/Prima Mulia

    Pekerja melakukan kontrol kualitas di industri pembuatan kain, Desa Padamulya, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat 4 Januari 2019. Pemerintah menargetkan ekspor produk TPT tahun 2019 mencapai USD 15 miliar atau naik 11 persen dibanding tahun lalu. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Industri pakaian jadi segmen besar dan sedang mencatatkan pertumbuhan produksi paling tinggi di antara sektor lainnya sepanjang kuartal I 2019.

    Baca juga: Triwulan I, Industri Manufaktur Besar Tumbuh 4,45 Persen

    Ernovian G. Ismy, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), mengatakan saat ini permintaan produk pakaian jadi terus meningkat. "Pasar atau order pakaian jadi terus naik. Konsumen kan juga konsumtif dan fashionable," ujarnya Minggu, 5 Mei 2019.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 3 bulan pertama tahun ini produksi industri pakaian jadi tumbuh sebesar 29,19 persen secara tahunan. Sementara, secara q-t-q sektor ini tumbuh sebesar 8,79 persen, kedua tertinggi setelah industri furnitur. 

    Pada waktu yang sama, industri tekstil besar dan menengah mencatatkan pertumbuhan produksi sebesar 8,77 persen secara tahunan. Namun, apabila dibandingkan dengan kuartal akhir tahun lalu, industri tekstil turun 1,74 persen q-t-q.

    Ernovian menyatakan dalam industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional, industri pakaian jadi mencatatkan nilai ekspor yang paling besar. Sepanjang 2018, industri pakaian jadi mencatatkan ekspor senilai US$8,62 miliar dengan pertumbuhan sebesar 8,9 persen y-o-y. Di sisi lain, ekspor industri tekstil sepanjang tahun lalu senilai US$ 4,651 miliar atau turun 0,1 persen dibandingkan 2017 yang senilai US$ 4,655 miliar.

    Industri TPT menjadi salah satu sektor yang diperkirakan tumbuh tinggi pada semester I tahun ini bersama industri makanan dan minuman. Kementerian Perindustrian menilai kinerja positif pada kedua sektor manufaktur tersebut, didukung adanya momentum pemilihan umum dan Ramadan.

    “Kami meyakini, konsumsi produk-produk sektor industri itu semakin meningkat, terutama di pasar domestik. Hal ini seiring pelaksanaan Pemilu dan masuknya bulan Ramadan,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar.

    Haris menjelaskan, selama ini industri makanan dan minuman dan TPT konsisten memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan sektor nonmigas dan ekonomi nasional. Kemenperin mencatat, sepanjang 2018, pertumbuhan industri TPT sebesar 8,73 persen serta industri mamin di angka 7,91 persen. Capaian ini melampaui pertumbuhan ekonomi pada tahun lalu yang menembus 5,17%.

    Pertumbuhan sektor makanan dan minuman dan TPT juga ditopang karena adanya peningkatan investasi, termasuk di industri alas kaki. Dia juga optimistis, beberapa sektor manufaktur lainnya akan menunjukkan pula geliat positif seperti industri logam, petrokimia, elektronika, dan otomotif.

    Oleh karena itu, pemerintah bertekad untuk terus menciptakan iklim investasi yang kondusif serta memberikan kemudahan dalam perizinan usaha.

    “Yang sudah bisa kita lihat bahwa Pemilu berjalan aman dan lancar. Artinya, dari sisi sosial, politik dan ekonomi, akan terjadi hal yang baik. Untuk itu, kepercayaan kepada pemerintah harus terus dijaga. Program yang sudah berjalan baik, perlu didukung,” kata Haris. 

    Selain industri pakaian jadi, industri pengolahan tembakau dan industri furnitur mencatatkan pertumbuhan produksi dua digit masing-masing sebesar 17,19 persen dan 12,92 persen secara tahunan pada kuartal I 2019.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sulli dan Artis SM Entertaintment yang juga Tewas Bunuh Diri

    Sulli, yang bernama asli Choi Jin-ri ditemukan tewas oleh managernya pada 14 Oktober 2019. Ada bintang SM lainnya yang juga meninggal bunuh diri.