Pengemudi Ojek Online Diduga Teroris, Gojek Lakukan Pengecekan

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anggota teroris. shutterstock.com

    Ilustrasi anggota teroris. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Manajemen perusahaan penyedia aplikasi ojek online, Gojek, tengah mengecek terdaftar atau tidaknya teroris yang ditangkap Tim Detasemen Khusus atau Densus 88 Antiteror Polri di manifes mitra pengemudinya. Chief Corporate Affairs Gojek Nila Marita mengatakan saat ini manajemen belum mendengar informasi detail terkait penjaringan teroris yang diduga berprofesi sebagai pengemudi ojek online itu.

    "Kami sedang cek kabar itu," kata Nila dalam pesan pendek kepada Tempo, Minggu, 5 Mei 2019.

    BACA: Pengemudi Ojek Online Diduga Teroris Ditangkap di Bekasi

    Senada dengan Nila, Vice President Corporate Affairs Gojek Michael Say mengatakan tengah menghimpun informasi detail terkait kabar tersebut. Adapun tim Gojek tengah mencari tahu kabar rinci dari informasi terkait dari berbagai sumber.

    Informasi penangkapan teroris diduga pengemudi ojek itu sebelumnya disampaikan Kepala Polres Metro Bekasi Kota Komisaris Besar Indarto. Indarto mengatakan teroris itu dijaring dalam kondisi hidup.

    BACA: Diduga Teroris, 2 Tewas dan 4 Orang Ditangkap di Bekasi

    Adapun terduga teroris lainnya yang juga menjadi buruan tewas dengan cara meledakkan diri dengan bom tas ransel sebelum dicokok polisi. "Satu orang ditangkap dalam kondisi hidup, satu lagi sebelum ditangkap meledakkan diri, sehingga meninggal dunia," katanya kepada wartawan di lokasi penangkapan, Minggu, 5 Mei 2019.

    Seorang teroris hidup yang berprofesi sebagai pengemudi ojek online itu berinisial T. Dia ditangkap di sebuah rumah kontrakan di Gang Salon RT 1/RW 1, Kelurahan Jatikramat, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, pagi tadi, Minggu, 5 Mei 2019. Menurut Indarto, penangkapan hari ini merupakan pengembangan dari penggerebekan di ruko depan Perumahan Pondok Afi 1, Kampung Pangkalan RT 11/RW 4, Desa Kedung Pengawas, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, pada Sabtu pekan lalu.

    ADI WARSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.