Disrupsi Teknologi Bikin Jumlah Karyawan Bank Turun, Ini Kata OJK

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nurhaida. ANTARA/Yudhi Mahatma

    Nurhaida. ANTARA/Yudhi Mahatma

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Nurhaida mengomentari soal maraknya efisiensi dan penutupan kantor cabang perbankan akibat disrupsi teknologi digital. Ia mengatakan kemajuan teknologi sebenarnya juga memberi banyak dampak positif pada industri perbankan.

    Baca: Tiga Tahun Terakhir, Bank Danamon Paling Banyak Kurangi Karyawan

    "Memang kalau dilihat dari situ memang bahwa dengan kemajuan teknologi banyak hal-hal yang ini ada penelitian bahwa sekitar 30 persen bisnis bank bisa dilakukan secara digital, dan itu mengurangi kebutuhan SDM, tapi itu akan terjadi suatu kondisi yang lebih simple dan efisien," ujar Nurhaida di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Kamis, 2 Mei 2019.

    Nantinya, kata Nurhaida, sumber daya manusia bisa diarahkan menjadi enterpreneur baru dengan adanya inovasi anyar. Selain itu adanya proses bisnis baru juga menimbulkan kegiatan usaha baru. Sehingga tenaga kerja yang ada juga bisa diarahkan ke sana.

    "Memang perlu perubahan mindset dan perubahan skillset supaya itu tetap berjalan," ujar Nurhaida. Mengenai nasib para karyawan yang terdampak digitalisasi itu, ia menyerahkan itu kepada masing-masing perbankan. "Kalau itu banknya yang akan menyesuaikan, OJK tidak masuk sampai ke detail kegiatan bank, atau intervensi seperti itu."

    Sebelumnya, dilaporkan jumlah karyawan perbankan dilaporkan terus menurun dalam tiga tahun terakhir ini. Bahkan, jumlah karyawan bank besar seperti PT Bank Central Asia Tbk. juga mulai turun sejak 2017 setelah terus meningkat pada tiga tahun tahun sebelumnya.

    PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. pun dalam kondisi yang sama. Hanya dua bank pelat merah, yaitu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., yang masih konsisten menambah jumlah karyawannya dalam tiga tahun terakhir.

    Rico Usthania Frans, Direktur Teknologi Informasi dan Operasi Bank Mandiri, mengatakan bahwa 50 persen posisi kerja karyawan perbankan yang ada saat ini akan hilang dalam waktu 10 tahun mendatang. “Ini perlu dipikirkan bersama. Kita butuh relokasi sumber daya manusia,” seperti dikutip Bisnis.com, Rabu 20 Maret 2019.

    Endang Hidayatullah, Direktur Kepatuhan Bank BNI menuturkan bahwa kebutuhan pegawai akan terus berubah seiring dengan perkembangan teknologi digital.“Arah kami adalah tetap mengoptimalkan pegawai yang ada dengan sistem alih fungsi, misalnya dulu teller, sekarang jadi sales,”

    Dia menambahkan, komposisi alih fungsi tugas tersebut mencapai 60 persen dari total karyawan. Jumlah tersebut merupakan pekerjaan rutin yang kini sudah digantikan oleh teknologi.

    CEO Citi Indonesia Batara Sianturi menuturkan tidak lama lagi perbankan akan butuh sumber daya manusia (SDM) yang memiliki daya analisis tinggi, bukan lagi kemampuan administrasi dan pelayanan seperti teller.

    Baca: Era Disrupsi Teknologi, OJK Sebut Ada 5 Skenario Nasib Perbankan

    Secara umum, pekerjaan yang akan paling cepat terdampak oleh disrupsi teknologi di perbankan adalah posisi front office. Citibank berencana tidak akan menambah jaringan secara fisik. “Digital itu shifting. Jangan heran nanti kalau ada bank yang butuh banyak kemampuan IT , bukan ekonomi, karena ada perubahan model bisnis,” tutur Batara.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.