Dolar AS Naik karena Kebijakan Suku Bunga The Fed

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi mata uang dolar.  REUTERS/Guadalupe Pardo

    Ilustrasi mata uang dolar. REUTERS/Guadalupe Pardo

    TEMPO.CO, New York - Kurs dolar naik terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat atau Kamis pagi WIB, karena Ketua Federal Reserve atau Fed AS, Jerome Powell mengatakan sikap kebijakan bank sentral saat ini tepat, mengurangi harapan untuk penurunan suku bunga.

    BACA: Pengamat Sebut Rupiah Melemah karena Faktor Eksternal

    Greenback berbalik naik atau rebound dari kerugian awal terkait dengan laporan yang mengecewakan pada aktivitas manufaktur Amerika Serikat.

    "Dolar berbalik lebih tinggi setelah Powell menunjukkan bahwa kekuatan yang membebani inflasi mungkin terbukti sementara," kata Joe Manimbo, analis pasar senior di Western Union Business Solutions di Washington. "Pernyataan Ketua The Fed itu cenderung membuat nada keseluruhan The Fed hari ini lebih hawkish daripada dovish."

    BACA: Jika Pemilu Damai, Luhut: Rupiah Menguat dan Miliaran Dolar Masuk

    Pada Maret bank sentral AS itu mengisyaratkan tidak akan menaikkan suku bunga pada tahun ini. Angka domestik dan luar negeri yang suram sekarang telah memicu spekulasi para pembuat kebijakan dapat mengurangi suku bunga utama AS untuk mencegah resesi.

    "Kami pikir sikap kebijakan kami sudah tepat saat ini, kami tidak melihat alasan kuat untuk memindahkannya ke arah lain," kata Powell dalam konferensi pers setelah pertemuan kebijakan dua hari The Fed.

    Pada akhir perdagangan AS, indeks yang melacak dolar AS terhadap euro, yen, sterling, dan tiga mata uang lainnya naik 0,21 persen menjadi 97,679.

    Suku bunga berjangka menyiratkan para pedagang sekarang melihat peluang 55 persen penurunan suku bunga Fed pada akhir tahun, turun dari 66 persen pada Selasa sore, 30 April 2019, menurut program FedWatch CME Group.

    Sebelumnya, dolar AS merosot setelah Institute for Supply Management mengatakan barometernya tentang sektor pabrik AS memburuk pada April ke level terendah 2,5 tahun. Penurunan mengejutkan diimbangi oleh laporan dari ADP bahwa perusahaan-perusahaan AS menambah 275.000 pekerja pada bulan lalu, terbesar dalam sembilan bulan.

    Beberapa keuntungan dolar AS pada April datang terhadap euro, di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi zona euro.

    Namun, data ekonomi zona euro yang relatif kuat pada Selasa, 30 April 2019 mendorong beberapa dana lindung nilai untuk menutup posisi jangka pendek di euro, mengangkatnya di atas 1,12 dolar AS.

    Euro memperpanjang kenaikan sebelum konferensi pers Powell. Mata uang tunggal Eropa Ini mencapai tertinggi satu minggu di 1,125 dolar AS sebelum jatuh 0,21 persen menjadi 1,11925 dolar AS.

    Dolar berakhir sedikit berubah pada 111,415 yen, berbalik naik dari level terendah 111 yen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cerita Saksi Soal Kebararan Pabrik Korek Api di Desa Sambirejo

    Inilah cerita saksi tentang kebakaran pabrik korek api gas di Desa Sambirejo, Langkat, Sumatera Utara memakan korban sampai 30 jiwa.