Otoritas BEI Temui Direksi Garuda Indonesia Selama 1 Jam

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang teknisi bersiap-siap melakukan pengecekan pesawat Garuda Indonesia tipe Boeing 737 Max 8 di Garuda Maintenance Facility AeroAsia di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, 13 Maret 2019. Garuda Indonesia saat ini mengoperasikan satu unit Boeing 737 Max 8 untuk rute Jakarta - Hong Kong, Jakarta - Singapura, dan Jakarta - Surabaya. REUTERS/Willy Kurniawan

    Seorang teknisi bersiap-siap melakukan pengecekan pesawat Garuda Indonesia tipe Boeing 737 Max 8 di Garuda Maintenance Facility AeroAsia di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, 13 Maret 2019. Garuda Indonesia saat ini mengoperasikan satu unit Boeing 737 Max 8 untuk rute Jakarta - Hong Kong, Jakarta - Singapura, dan Jakarta - Surabaya. REUTERS/Willy Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Bursa Efek Indonesia atau BEI hari ini memanggil jajaran direksi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Pemanggilan tersebut berkaitan dengan penolakan beberapa komisaris atas laporan keuangan 2018 perusahaan pelat merah ini.

    Baca: Laporan Keuangan Garuda Janggal, Menhub: Polemik Cukup Serius

    Direktur Penilaian BEI I Gede Nyoman Yetna membenarkan adanya pertemuan tersebut. Dia mengatakan pertemuan digelar pada pukul pukul 08.30 - 09.30. Dalam pertemuan ini, selain jajaran direksi Garuda, BEI juga bertemu dengan auditor dari laporan keuangan tersebut.

    "Hari ini, Selasa 30 April 2019, Bursa telah melakukan hearing dengan PT Garuda Indonesia Tbk dan auditor pada pukul 08.30 - 09.30. Bursa akan mengirimkan permintaan penjelasan pada hari ini," kata Nyoman di Jakarta, Selasa 30 April 2019.

    Namun Nyoman tak membeberkan apa hasil pertemuan dengan jajaran direksi dan juga auditor tersebut. Ia meminta semua pihak untuk mengacu pada tanggapan perseroan yang akan disampaikan melalui platform bursa. Adapun penjelasan ini dapat diakses langsung di laman resmi Bursa Efek Indonesia.

    Sebelumnya, dikabarkan Dua komisaris Garuda Indonesia, Dony Oskaria dan Chairal Tanjung, enggan meneken laporan tahunan perseroan untuk tahun pembukuan 2018. Keduanya menyatakan ada kejanggalan dalam penyusunan laporan yang mencatatkan untung hingga US$ 809.846 atau setara Rp 11,5 miliar sepanjang tahun itu.

    Dony dan Chairal, yang merupakan wakil PT Trans Airways dan Finegold Resources Ltd selaku pemilik 28,08 persen saham Garuda Indonesia, menyatakan keberatan karena perseroan telah memasukkan pendapatan piutang ke dalam laporan keuangan. Sikap ini memicu perbedaan dalam rapat umum pemegang saham tahunan atau RUPST yang digelar di Hotel Pullman, Jakarta, Rabu, 24 April 2019.

    Melalui sebuah surat bertanggal 2 April yang salinannya diperoleh awak media, Chairal dan Dony menyatakan Garuda Indonesia telah memasukkan pendapatan piutang hasil kerja sama PT Mahata Aero Teknologi dan PT Citilink Indonesia. Adapun Citilink adalah anak usaha Garuda Indonesia. 

    Dua tangan kanan Chairul Tanjung, bos CT Corp yang menaungi Trans Airways ini menyatakan piutang seharusnya tidak masuk dalam pos pendapatan tahunan. Laporan keuangan tahunan GIA disebut bertentangan dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 23.

    Baca: Laporan Keuangan Jadi Polemik, Ini Klarifikasi Garuda

    "Laporan ini akan 'menyesatkan' publik karena Garuda Indonesia mencatatkan kerugian signifikan menjadi laba. Terlebih perseroan adalah perusahaan publik atau terbuka," seperti dikutip dalam tulisan tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Permohonan Pengembalian Biaya Perjalanan Ibadah Haji 2020

    Pemerintah membatalkan perjalanan jamaah haji 2020. Ada mekanisme untuk mengajukan pengembalian setoran pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji.