Menperin: Ekonomi Digital Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Presiden RI Joko Widodo  saat pembukaan pameran Inacraft 2019 di Jakarta, Rabu (24/4).

    Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Presiden RI Joko Widodo saat pembukaan pameran Inacraft 2019 di Jakarta, Rabu (24/4).

    TEMPO.CO, Bandung - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan ada lima sektor industri yang potensial untuk ekonomi berbasis digital atau ekonomi digital. Kelima sektor itu berdasarkan studi, punya matriks yang berdampak tinggi dan pelaksanaannya mudah. “Makanan dan minuman, tekstil, otomotif, kimia, dan elektronik,” katanya.

    Baca: Tarik Aturan Pajak E-commerce, Ini Alasan Sri Mulyani

    Pemerintah, kata Airlangga, akan meningkatkan sumber daya manusia serta riset dan pengembangan untuk menunjang program ekonomi Indonesia berbasis inovasi. Ekonomi berbasis digital menurutnya bisa ditingkatkan pertumbuhannya hingga 1-2 persen. “Untuk menambah pertumbuhan ekonomi tahun depan yang 5,6 persen,” ujarnya, Senin, 29 April 2019 di Aula Barat Institut Teknologi Bandung.

    Ekonomi berbasis digital membuat peralihan pekerjaan. Namun itu tidak berarti memangkas tenaga kerja. “Yang akan timbul adalah bertambah lebih dari 10 juta (pekerja),” kata Airlangga. Adapun kontribsinya terhadap industri manufaktur dari sekarang 20 persen menjadi 25 persen tenaga kerja.

    Airlangga menjelaskan, pemerintah sedang menyiapkan sektor-sektor fokus ekonomi digital. Sebanyak lima dari 38 sektor industri yang berpotensi itu sekarang menyumbang 70 persen pendapatan domestik bruto (PDB) “Sebanyak 65 persen ekspor dari lima sektor itu, dan 60 persen tenaga kerja.”

    Sampai 2025, kata Airlangga, kesempatan pengembangan ekonomi berbasis digital akan menciptakan penambahan PDB sebesar US$ 155 miliar. Masukan tenaga kerja yang terkait langsung dengan industri nilainya US$ 35 miliar dengan tambahan tenaga kerja terkait manufaktur sebanyak 4,5 juta orang. “Terkait peningkatan produktivitas nilainya US$ 120 miliar,” ujarnya.

    Sementara itu Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan, istilah revolusi industri 4.0 dan ekonomi digital kadang bercampur aduk. Keduanya memakai teknologi yang hampir sama.

    Baca: Darmin Sebut Ekonomi Dunia Sakit Tapi Digital Terus Tumbuh

    Bedanya, industri 4.0 yang berangkat dari Jerman terkait dengan bagaimana meningkatkan produktivitas dan efisiensi sektor manufaktur atau base industry. “Ekonomi digital adalah cara baru yang lebih ke retail,” ujar Rudiantara.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kombatan ISIS asal Indonesia yang Terdeteksi di Suriah dan Irak

    Pada 2017, BNPT memperkirakan seribu lebih WNI tergabung dengan ISIS. Kini, kombatan asal Indonesia itu terdeteksi terserak di Irak dan Suriah.