Kemenko Maritim Verifikasi Dugaan Penyelundupan Sampah Plastik

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Sampah Plastik di Laut. shutterstock.com

    Ilustrasi Sampah Plastik di Laut. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman mengirim tim untuk memverifikasi hasil investigasi sebuah lembaga konservasi lingkungan di Jawa Timur mengenai dugaan penyelundupan sampah plastik dari Australia, yang masuk lewat impor kertas bekas di Indonesia.

    Baca juga: Kata Luhut Pandjaitan Soal Dugaan Penyelundupan Sampah Plastik

    "Sekarang staf saya sedang ke sana pagi ini untuk mengecek benar enggak informasi itu. Saya tidak bisa langsung percaya," ujar Deputi IV Bidang Koordinasi SDM, IPTEK dan Budaya Maritim Safri Burhanuddin di Hotel Grand Mercure, Jakarta, Senin, 29 April 2019. Ia mengirimkan timnya ke daerah Brantas dan Porong untuk melihat langsung lokasi tersebut.

    Safri mengatakan baru beberapa waktu lalu menerima laporan tersebut. Ia lantas sudah memanggil perwakilan lembaga nirlaba itu untuk memberi paparan. Setelah mendapat informasi, baru lah ia mengirim personel.

    "Kami akan cek dan rakorkan lagi benar enggak kebijakan ini. Kami akan pastikan benar enggak pemeriksaannya. Kan saat pengiriman harusnya yang tertulis limbah kertas, bukan limbah plastik."

    Hingga kini, industri kertas Indonesia memang masih mengimpor bahan baku kertas bekas, salah satunya dari Australia. Sebab, bahan tersebut sulit di temukan di dalam negeri. Pada 2018 lalu saja, impor kertas bekas dari Australia mencapai 52 ribu ton.

    Hanya saja, berdasarkan hasil penelusuran lembaga Ecological Observations and Wetlands Conversation (Ecoton), ditemukan ada kandungan plastik dalam kertas bekas yang dikirim dari Australia dan diduga ada unsur kesengajaan. "Sebenarnya menurut aturan di Indonesia sampah plastik tidak boleh lebih dari 2 persen dari bobot kertas bekas yang diimpor," ujar Direktur Eksekutif Ecoton Prigi Arisandi.

    Prigi mengatakan hingga November 2018 hampir 30 persen sampah kertas yang dibeli dari Australia isinya adalah sampah plastik. Ia menyebut adanya perilaku buruk dari negara-negara maju yang merasa kesulitan mengatasi sampah dan menyadari mahalnya biaya daur ulang.

    Atas temuan itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan juga ikut buka suara. "Enggak boleh, kita enggak mau, memangnya kita tempat pembuangan sampah?" kata Luhut. Kendati, ia mengaku baru mendengar laporan itu.

    Luhut mengatakan kementeriannya bakal menindaklanjuti temuan soal dugaan penyelundupan sampah plastik. Apabila benar, ia menegaskan bahwa kasus tersebut tidak boleh dibiarkan. "Itu tidak boleh," kata dia. "Saya sudah larang juga sampah plastik datang ke Batam."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Profil Ketua KPK Firli Bahuri dan Empat Wakilnya yang Dipilih DPR

    Lima calon terpilih menjadi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk periode 2019-2023. Firli Bahuri terpilih menjadi Ketua KPK.