Ini Dia Saham yang Melemah Sepanjang Pekan Lalu

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

    Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Tujuh dari sembilan indeks sektoral tercatat mengalami pelemahan selama pekan lalu. Penurunan saham terbesar dialami sektor industri dasar yang melemah 4,41 persen, disusul sektor pertanian yang turun 4,21 persen.

    Baca: Laporan Keuangan Ditolak 2 Komisaris, Saham Garuda Jeblok

    Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip Bisnis.com, Senin 29 April 2019, saham PT Trikomsel Oke Tbk mencatat pelemahan harga tertajam sepanjang pekan lalu. Harga saham emiten bersandi TRIO tersebut ditutup melemah 40,99 persen ke level Rp95 per lembar saham dari level penutupan pekan sebelumnya di level Rp161.

    Menyusul saham TRIO, di posisi kedua ada saham PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP) yang ditutup melemah 36,81 persen ke level Rp91 per lembar saham. Semula posisi harga IIKP berada di level Rp144 per saham pada pekan sebelumnya.

    Secara keseluruhan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), melemah sepanjang pekan lalu, 22-26 April 2019. IHSG melemah 1,63 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Jumat 26 April 2019 lalu, IHSG ditutup di  level 6.401,08.

    Sepanjang pekan lalu, IHSG mencapai level terendah di posisi 6.372,79 dan tertinggi di 6.462,82. Volume perdagangan saham pekan lalu mencapai angka 69,92 miliar lembar saham, dengan nilai mencapai Rp45,62 triliun.

    Angka ini mencatat kenaikan dibandingkan periode pekan sebelumnya (15-18 April 2019) yang mencatatkan volume perdagangan saham sebesar 43,97 miliar lembar senilai Rp30,83 triliun. Sementara itu, nilai kapitalisasi pasar mencatatkan penurunan sebesar 1,63 persen menjadi sebesar Rp7.281,13 triliun dari Rp7.401,74 triliun pada penutupan pekan lalu.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).