Olah Plastik Jadi Aspal, Luhut Pandjaitan: Belajar dari India

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan memberikan sambutan dalam peluncuran taksi berbahan bakar listrik di kantor pusat Bluebird, Mampang, Jakarta Selatan, Senin, 22 April 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan memberikan sambutan dalam peluncuran taksi berbahan bakar listrik di kantor pusat Bluebird, Mampang, Jakarta Selatan, Senin, 22 April 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan mengatakan Indonesia tengah belajar dari negara kain sari, India, dalam hal pembuatan aspal dengan bahan baku utama limbah plastik. Upaya ini dilakukan pemerintah untuk mengurangi limbah plastik yang mengapung di laut dengan mengolahnya menjadi barang reuse dan recycle.

    Baca juga: Luhut Pandjaitan Ungkap 3 Upaya Pemerintah Selesaikan Sampah

    “India itu sudah buat aspal dari plastik TAR,” ujar Luhut saat ditemui seusai acara Gerakan Indonesia Bersih bertajuk 'Indonesia Saya, Indonesia Bersih" di area jalan bebas kendaraan alias car free day, kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Ahad, 28 April 2019. 

    Mantan staf kepresidenan itu mengatakan India telah membangun 140 kilometer jalan raya dengan aspal berbahan plastik dengan skala penuh. Hasilnya, aspal ini memiliki daya rekat rekat 40 persen lebih ampuh ketimbang aspal biasa. Selain itu, ia mengklaim aspal dari plastik dapat menghemat biaya sampai 10 persen.

    Menurut Luhut, Kementerian Perumahan dan Pekerjaan Umum turut mengadopsi program itu untuk diterapkan di Tanah Air. Pada tahap pertama, Kementerian melakukan uji coba pengaspalan berbahan baku sampah plastik di Jalan Raya Sultan Agung, Kecamatan Mendasatria, Kota Bekasi. Aspal dari plastik ini diterapkan untuk pembangunan jalan sepanjang 2,6 kilometer.  

    Adapun setiap 1 kilometer jalan dengan lebar 7 meter, pelaksana pembangunan membutuhkan campuran limbah plastik sebanyak 2,5 sampai 5 ton. Luhut memungkinkan aspal berbahan baku plastik ini akan dibangun di jalan lain.

    Ia yakin, aspal plastik akan mampu mengurangi limbah plastik yang pada 2019 jumlahnya diperkirakan mencapai 9,52 juta ton atau 14 persen dari total sampah yang ada. 

    Program pengolahan plastik tersebut, ujar dia, juga diberlakukan di kementerian lain. Jajaran Kementerian Kabinet Kerja akan mengimplementasikan upaya tersebut dengan program terintegrasi. Program pengurangan limbah plastik yang dikomandoi Kemenkomaritim ini mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut.

    Luhut Pandjaitan memungkinkan upaya pengelolaan limbah juga akan dilakukan di kementerian lain, semisal Kementerian Perhubungan. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi merencanakan dalam waktu dekat, pihaknya akan mendorong pelabuhan-pelabuhan menyediakan tempat pembuangan sampah plastik. Sampah itu nantinya akan dimanfaatkan menjadi barang daur ulang. “Mungkin saya minggu depan ini akan mengumpulkan (pihak)  pelabuhan-pelabuhan. (Mereka) harus ada tempat proses pembuangan sampah,” ucapnya di tempat yang sama.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.