Lagi, Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan 6 Persen

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (kedua kiri) memberikan Buku Laporan Perekonomian Indonesia 2018 kepada Menko Perekonomian Darmin Nasution (kedua kanan) disaksikan Anggota DPR Aziz Syamsudin (kiri), dan mantan Gubernur BI Syahril Sabirin (kanan) saat peluncuran buku tersebut di Gedung BI, Jakarta, Rabu, 27 Maret 2019. Buku dengan sub judul Sinergi Untuk Ketahanan dan Pertumbuhan itu merupakan laporan, kajian dan pandangan BI terhadap kondisi perekonomian selama 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (kedua kiri) memberikan Buku Laporan Perekonomian Indonesia 2018 kepada Menko Perekonomian Darmin Nasution (kedua kanan) disaksikan Anggota DPR Aziz Syamsudin (kiri), dan mantan Gubernur BI Syahril Sabirin (kanan) saat peluncuran buku tersebut di Gedung BI, Jakarta, Rabu, 27 Maret 2019. Buku dengan sub judul Sinergi Untuk Ketahanan dan Pertumbuhan itu merupakan laporan, kajian dan pandangan BI terhadap kondisi perekonomian selama 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Rapat Dewan Gubernur atau RDG Bank Indonesia pada 24-25 April 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) atau suku bunga acuan sebesar 6 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen.

    Baca: Gubernur BI: Defisit Transaksi Berjalan Mengarah ke 2,5 Persen

    "Keputusan tersebut sejalan dengan upaya memperkuat stabilitas perekonomian Indonesia," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta, Kamis, 25 April 2019.

    Terakhir, Rapat Dewan Gubernur atau RDG Bank Indonesia pada 20-21 Maret 2019 lalu juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan sebesar 6 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen.

    Gubernur BI Perry Warjiyo saat itu meyakini bahwa tingkat suku bunga kebijakan tersebut konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas eksternal, khususnya untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan pada batas yang aman.

    "Hal itu juga untuk mempertahankan daya tarik aset domestik. BI juga terus menempuh operasi moneter untuk meningkatkan ketersediaan likuiditas dalam mendorong pembiayaan perbankan," kata Perry di komplek gedung BI, Jakarta, Kamis, 21 Maret 2019 lalu.

    Keputusan Bank Indonesia ini sesuai dengan prediksi Kepala Riset Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsi. Ia memperkirakan tingkat suku bunga atau 7 Days Repo Rate (7DRR) Bank Indonesia atau BI tak akan berubah, tetap berada di level 6 persen.

    "Pada 24-25 April ini, BI melakukan Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang kemungkinan putuskan suku bunga acuan 7DRR tetap sebesar 6 persen," kata Lana di Jakarta, Kamis 25 April 2019 pagi.

    Menurut Lana, tingkat suku bunga yang tetap berada di level 6 persen tersebut diputuskan karena tiga alasan. Pertama, karena inflasi yang masih terjaga aman, kedua nilai tukar rupiah relatif stabil dan terakhir karena risiko global yang relatif terukur.

    Baca: Survei BI: Pertumbuhan Kredit Bank Akan Menguat di Kuartal II

    Lana melanjutkan, banyak spekulasi yang menyebut bahwa BI akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, pada saat yang sama BI juga menargetkan untuk menurunkan defisit transaksi berjalan dari 2,98 persen pada akhir 2018 menjadi 2,5 persen pada 2019.

    "Upaya menurunkan defisit tersebut akan sulit dicapai jika BI menurunkan suku bunganya," kata Lana.

    FAJAR PEBRIANTO | DIAS PRASONGKO

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peranan Penting Orang Tua dalam Kegiatan Belajar dari Rumah

    Orang tua mempunyai peranan yang besar saat dilaksanakannya kegiatan belajar dari rumah.