Kadin Beberkan Penyebab Dunia Usaha Kurang Ekspansif

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua KADIN Rosan Roeslani dan Wakil Ketua KADIN Bidang Hubungan  Antar Lembaga Bambang Soesatyo saat mendatangi Gedung KPK, Jakarta, 15 April 2016. TEMPO/Yohanes Paskalis

    Ketua KADIN Rosan Roeslani dan Wakil Ketua KADIN Bidang Hubungan Antar Lembaga Bambang Soesatyo saat mendatangi Gedung KPK, Jakarta, 15 April 2016. TEMPO/Yohanes Paskalis

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Rosan Roeslani mengatakan pengusaha sejatinya tidak sedang mengambil posisi menunggu alias wait and see. Kurang ekspansifnya dunia usaha ditengarai karena permintaan yang cenderung stagnan.

    Baca: Pemilu Damai, Ini Hal Positif yang Dirasakan Dunia Usaha

    "Sebetulnya tidak wait and see, tapi karena demand-nya flat kita tidak bisa ekspansi," ujar Rosan di Ballroom Ritz Carlton, Jakarta, Rabu, 24 April 2019. Sementara, penyebab permintaan cenderung stagnan adalah lantaran daya belinya menurun.

    Imbasnya, Rosan mencontohkan permintaan pada sektor properti kurang bergairah. Khususnya, untuk properti kelas menengah ke atas. Ia berujar permintaan untuk properti di bawah kisaran Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar masih cukup baik.

    Di sisi lain, ekspor yang diharapkan bisa menopang pertumbuhan ternyata juga menghadapi tantangan. Rosan mengatakan dalam beberapa waktu terakhir pertumbuhan ekspor justru melambat. Pasalnya, selama ini Indonesia masih mengandalkan ekspor komoditas sebagai tumpuan.

    "Dalam 10-15 tahun terakhir kita agak terlena, tren ekspor bertumpu pada komoditas," ujar Rosan. Padahal, tren harga komoditas sedang lesu. Salah satu komoditas andalan Indonesia, batu bara, harganya anjlok di pasaran.

    Kendati demikian, Rosan mengatakan ada sektor-sektor lain yang justru mengalami peningkatan ekspor. Misalnya saja tekstil yang naik setidaknya 20 persen. Hal tersebut disebabkan adanya perang tarif yang berdampak kepada kompetitifnya produk Indonesia.

    Adapun pada lini investasi, Indonesia belakangan masih ketinggalan dari negara tetangga dalam hal menarik pemodal masuk. "Terus terang kita paling bontot yang mendapatkan pelimpahan investasi masuk ke Indonesia, lebih banyak ke Vietnam, Thailand, Malaysia," ujar Rosan.

    Menurut dia, tiga negara itu kini banyak menikmati relokasi pabrik-pabrik pasca gonjang-ganjing perekonomian global akibat perang dagang.

    Ke depannya, Rosan mengatakan Kadin bakal terus berkomunikasi dengan pemerintah untuk memberi masukan perihal kebijakan yang sebaiknya dilakukan selanjutnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perolehan Kursi DPR Pemilu 2019, Golkar dan Gerinda di Bawah PDIP

    Meski rekapitulasi perolehan suara Golkar di Pileg DPR 2019 di urutan ketiga setelah PDIP dan Gerindra, namun perolehan kursi Golkar di atas Gerindra.