Menjelang Ramadan, Pemerintah Diminta Stabilkan Harga Jagung

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga mengamati mobil pikap yang membawa telur ayam murah di Toko Tani Indonesia Center, Jakarta, Kamis, 19 Juli 2018. Operasi pasar ini bertujuan menekan harga telur yang sempat mencapai Rp 30 ribu per kilogram. TEMPO/Amston Probel

    Warga mengamati mobil pikap yang membawa telur ayam murah di Toko Tani Indonesia Center, Jakarta, Kamis, 19 Juli 2018. Operasi pasar ini bertujuan menekan harga telur yang sempat mencapai Rp 30 ribu per kilogram. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Solo - Peternak ayam petelur meminta pemerintah menjaga stabilitas harga jagung menjelang Ramadan dan Lebaran tahun ini. Selama ini mereka merasa selalu menjadi kambing hitam saat terjadi lonjakan harga telur.

    Baca juga: Sri Mulyani Jamin Harga Terkendali Selama Ramadan

    Ketua Presidium Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Petelur Nasional Yudianto Yogiarso mengatakan harga telur sangat mempengaruhi tingkat inflasi, baik di daerah maupun nasional. "Setiap harga telur naik, kami selalu ditekan untuk menurunkan," katanya di Solo, Rabu 24 April 2019.

    Padahal, selama ini para peternak selalu berusaha mengambil keuntungan secara wajar kendati harga telur tinggi. "Termasuk saat Ramadan maupun lebaran," katanya. Terkadang, terdapat selisih harga yang cukup besar antara harga telur di kandang dengan di pasaran.

    Menurut Yudianto, harga telur ayam sangat terpengaruh dengan harga pakan. "Saat harga pakan tinggi, kami tidak mungkin menjual telur dengan harga rendah," katanya.

    Sedangkan selama beberapa tahun terakhir harga pakan di pasaran cenderung fluktuatif. Yudianto menghitung bahwa harga wajar telur di kandang setara dengan 3,6 kali harga pakan di pasaran. Jika pemerintah berharap harga telur tiap kilogram bisa ditekan di bawah Rp 24 ribu, misalnya, harga pakan per kilogram harus di bawah Rp 7 ribu.

    "Sedangkan komponen pakan separuhnya adalah jagung," katanya. Artinya, dia berharap harga jagung bisa ditekan hingga di harga Rp 3.500 tiap kilogramnya. "Jika harga jagung naik, otomatis harga telur di kandang di atas Rp 24 ribu per kilogram," katanya.

    Meski demikian, pihaknya mengapresiasi langkah Bulog yang terus menyerap hasil panen jagung dari para petani. "Harganya cukup stabil meski masih mencapai Rp 4 ribu per kilogram," katanya. Dia berharap harga tersebut bisa terus dipertahankan hingga Ramadan dan Lebaran mendatang.

    Dia juga meminta pemerintah menghitung ulang hasil produksi jagung dengan kebutuhan riil di lapangan. Hal itu untuk menjamin ketersediaan pasokan jagung untuk para peternak. "Ketersediaan komoditas jagung juga berpengaruh pada harga di pasaran," katanya.

    Baca berita Ramadan lainnya di ramadan.tempo.co


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.