IHSG Hari Ini Diprediksi Bergerak Terbatas di Level 6.417-6.514

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

    Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diperkirakan bergerak terbatas di tengah bauran sentimen global dan domestik yang bervariasi.

    Baca: Pemilu Aman, IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan pada Pekan Ini

    Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, memprediksi sentimen yang akan hadir kali ini adalah dari Brexit karena Perdana Menteri Inggris Theresa May akan menyiapkan strategi baru di tengah keputusasaan dalam mengupayakan Brexit.

    Bank of Japan juga merilis data inflasi naik dari sebelumnya 0,4 persen menjadi 0,5 persem. Selanjutnya sebanyak 48 ekonom yang disurvei Bloomberg memperkirakan Bank Sentral Jepang tersebut akan kembali melonggarkan kebijakan atau mengucurkan stimulus moneter. Pengumuman kebijakan moneter BOJ dilakukan pada esok hari. 

    Dari dalam negeri, Komite Stabilitas Sistem Keuangan kemarin melaporkan kondisi stabilitas keuangan Indonesia sepanjang kuartal I/2019 dalam kondisi terjaga.  Kesimpulan ini berdasarkan hasil pemantauan lembaga anggota KSSK yaitu Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), terhadap perkembangan perekonomian, moneter, fiskal, pasar keuangan, lembaga jasa keuangan, dan penjaminan simpanan. 

    KSSK menyampaikan, dari sisi domestik, tantangan yang dihadapi adalah menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dengan memacu investasi dan ekspor dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan. Komite terus memperkuat koordinasi kebijakan moneter, fiskal, makroprudensial, mikroprudensial, dan penjaminan simpanan untuk mempertahankan  stabilitas ekonomi serta menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. 

    Di bidang moneter, Gubernur Bank Indonesia mengatakan akan fokus pada kebijakan suku bunga dan nilai tukar untuk memperkuat stabilitas eksternal perekonomian, khususnya guna mengendalikan defisit transaksi berjalan dalam batas yang aman dan mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik. 

    Tidak hanya itu saja, Bank Indonesia juga menempuh berbagai kebijakan yang lebih akomodatif untuk mendorong permintaan domestik. Di antaranya, operasi moneter seperi FX swap, kebijakan makroprudensial yang akomodatif, mengakselerasi pendalaman pasar keuangan, memperkuat kebijakan sistem pembayaran. Dari sisi APBN terdapat tren yang positif, baik dari sisi pendapatan maupun belanja negara. 

    Fokus berikutnya masih menanti Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral Indonesia yang akan diadakan pada esok hari. "Meskipun kami meyakini bahwa masih belum adanya pemangkasan tingkat suku bunga, tetapi besar harapan kami bahwa tingkat suku bunga dapat dipangkas pada semester kedua nanti," kata Nico melalui riset harian, Rabu, 24 April 2019.

    Selain itu, Presiden Joko Widodo kembali menekankan reformasi struktural dan reformasi birokrasi. Hal itu diungkapkan saat membuka sidang kabinet paripurna di Istana Bogor. 

    Reformasi birokrasi tersebut merupakan kunci dari peningkatan di bidang investasi dan ekspor. Sementara itu, masih rendahnya ekspor disebabkan karena produk ekspor masih merupakan bahan mentah. 

    Oleh karena itu, Jokowi meminta agar membuka peluang investasi bagi industri hilir dari komoditas di Indonesia.  Dengan adanya keseriusan pemerintah terkait memperbaiki kualitas ekspor, Nico meyakini hal tersebut dapat berdampak bagi pertumbuhan jangka panjang.

    Baca: Jokowi Unggul Versi Quick Count, IHSG Bakal Tembus 6.900

    Namun, untuk saat ini pemerintah perlu untuk dapat meyakinkan investor masuk dan berinvestasi di Indonesia guna mempercepat realisasi dari target pertumbuhan  yang sudah dicanangkan pemerintah. "Secara teknikal, kami melihat saat ini IHSG berpotensi bergerak menguat terbatas dan diperdagangkan pada level 6.417-6.514," kata Nico.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.